iklan banner pemrov sulsel
Pemerintah-Kabupaten-Bantaeng
Banner PDAM Makassar

Solilokui Sriti

waktu baca 9 menit

Loading

Solilokui Sriti

Oleh: Dito Anurogo

O, Manusia…

Mentari telah menyapamu sementara engkau dalam pelukan rembulan. Kokok ayam telah mengingatkanmu untuk menyucikan jiwamu, namun engkau terlena dalam buaian bidadari ilusi… yang membuat jiwamu jauh dari Ilahi… Kepada siapakah sebenarnya jiwamu kau peruntukkan? Kepada siapakah sebenarnya ragamu kau persembahkan?

                         Ilustrasi

O, Manusia…

Di pohon kehidupan aku bernyanyi, sementara di tanah kenikmatan kau berdiri. Aku peringatkan kau setiap pagi bersama embun yang menari–nari di bawah senyuman sinar mentari, tapi kau menganggap semua itu hanyalah kicauan yang menyejukkan hati dan mencerahkan hari. Bagaimana mungkin harimu cerah, sedangkan hatimu lelah mencari duniawi? Bagaimana mungkin engkau harapkan kebahagiaan dari taman–taman surgawi, sementara cinta-kasihmu terbagi?

O, Manusia…

Aku berteduh sejenak dari terik mentari, mengapakah kau terus bekerja memaksa diri? Aku menyuapi anak–anakku dengan makanan yang kucari dengan paruhku sendiri, mengapakah engkau memberi anak–anakmu dengan rejeki hasil mencuri? Aku membangun sarangku dari pemberian bumi yang kukumpulkan sedikit demi sedikit, hari demi hari, lalu kucari tempat yang damai di dahan pepohonan yang tak berduri. Satu sarang, cukuplah bagiku… asalkan keluargaku masih dapat menikmati udara pagi dan hangatnya sinar mentari. Kini kubertanya padamu, “Mengapa kau bangun pabrik–pabrik, gedung–gedung pencakar langit yang mengganggu ekosistem bumi? Mengapa pula kau dirikan banyak rumah mewah yang akhirnya tak kau tinggali?”

O, Manusia…

Mentari beranjak meninggalkan marcapada, sementara bulan bersiap menjenguk bumi. Anak-anakku telah bersiap–siap untuk tidur dengan sayapku sebagai selimut mereka, dan di sampingku ada pasangan hidupku yang selalu setia bersamaku. Aku heran mengapa kau tak bersama keluargamu… padahal mereka butuh kasih sayangmu, mereka butuh belaian mesra tanganmu, mereka butuh kata-katamu yang menyejukkan hati, mereka butuh bukan hanya banyaknya hartamu, melainkan juga hangatnya hatimu… Tidakkah kau sadari hal ini? Aku mensyukuri semua yang kudapat hari ini, sementara kau mencaci semua yang kau peroleh hari ini. Demi siapakah sebenarnya kau bekerja? Demi apakah sebenarnya kau berusaha?
O, Manusia…

Bulan–bulan sedang berdansa, bintang–bintang sedang menari, galaksi–galaksi sedang bernyanyi. Benar…semesta sedang berpesta. Aku akan mengajak jiwamu terbang mengangkasa sebelum paruhku kaku dan diriku fana. Aku akan mengajak dirimu ke tempat dimana tiada lagi penderitaan, tiada lagi kesengsaraan, tiada lagi kehampaan. Itulah negeri Abadi. Disana yang ada hanyalah kebahagiaan, kenikmatan, serta keabadian. Engkau dengan mudah dapat mencapainya asalkan hatimu tetap terjaga meskipun dirimu tertidur. Tiada kata yang tepat untuk menceritakan kebahagiaan disana pun tiada pena yang dapat untuk melukiskan dan menuliskan segala kejadian di sana.

O, Manusia…

Dengarlah, aku akan berdendang untukmu… Kupersembahkan kidung ini khusus untukmu, agar kau selamat dalam menempuh perjalananmu menuju negeri Abadi. Dengarlah, resapilah, dan simpanlah dalam hatimu…, pesanku lagi, bila umurmu panjang, wariskanlah kidungku pada anak cucumu sehingga mereka semua bisa bahagia bersamamu kelak di negeri Abadi.

Dengarlah… aku akan mulai bernyanyi,

“Ribuan orang,
kau kenal,
percuma saja,
kalau kau,
tak kenal,
dirimu sendiri.”

“Ribuan negeri,
kau taklukan,
percuma saja,
kalau kau,
tak taklukkan,
diri sendiri.”

“Ribuan senyum,
kau berikan,
percuma saja,
kalau senyummu,
tak tulus,
dari hati.”

“Ribuan kata,
kau ucapkan,
percuma saja,
kalau terucap,
tidak dari,
hati nurani.”

“Ribuan hari,
kau lewati,
percuma saja,
kalau tidak,
kau cerahkan,
ribuan hati.”

“Ribuan li,
kau tempuh,
percuma saja,
kalau tidak,
kau tempuh,
jalan Abadi.”

“Ribuan buku,
kau baca,
percuma saja,
kalau kau,
tak baca,
ayat Ilahi.”

“Ribuan musik,
membuatmu menangis,
percuma saja,
kalau kau,
terus menertawakan,
musik Surgawi.”

“Ribuan ruang,
kau hiasi,
percuma saja,
kalau tidak,
kau hiasi,
ruang Hati.”

“Ribuan rumah,
kau bangun,
percuma saja,
kalau kau,
tak kunjungi,
rumah Ilahi.”

“Ribuan penyakit,
kau obati,
percuma saja,
kalau kau,
tak obati,
penyakit hati.”

“Ribuan samudera,
kau arungi,
percuma saja,
kalau tidak,
kau arungi,
samudera Hakiki.”

“Ribuan mutiara,
kau persembahkan,
percuma saja,
kalau tidak,
kau persembahkan,
Cinta Sejati.”

“Ribuan bidadari,
kau cintai,
percuma saja,
kalau tidak,
kau cintai,
Diri Sejati.”

“Ribuan misteri,
kau buka,
percuma saja,
kalau kau,
tak membuka,
Tabir Ilusi.”

“Ribuan tempat,
kau kunjungi,
percuma saja,
kalau kau,
hanya dapat,
nikmat sesaat.”

“Ribuan peristiwa,
kau alami,
percuma saja,
kalau tidak,
kau ambil,
hikmah Hakiki.”

“Ribuan kehidupan,
kau ubah,
percuma saja,
kalau tidak,
dimulai dari,
diri sendiri.”

“Ribuan hal,
kau pahami,
percuma saja,
kalau kau,
tak pahami,
hakikat Diri.”
 

 

O, Manusia…

Aku mencintaimu meski kutahu kau tak mencintaiku, karena dari dahulu, diriku tercipta untuk dirimu. Kau awetkan aku dan kubalas dengan tubuhku yang dapat menambah pundi-pundi hartamu. Kau kurung aku dan kubalas dengan kicauan merduku. Kau buru aku dan kubalas dengan bulu-bulu indahku. Kau tembak aku dan kubalas dengan telur yang menyehatkanmu. Kalau aku hanya memikirkan diriku dan keluargaku, maka takkan mungkin aku mau berkorban untukmu. Biarlah aku mati, asalkan kau bahagia… Bagiku, hidup yang sekali ini, biarlah berarti … untukmu … selamanya ….

 

Profil Naratif Penulis

Dito Anurogo, dokter penggiat sastra dan pembelajar humaniora, dokter digital/online di detik.com, peraih ‘’Gadjah Mada Awards’’ 2015 kategori mahasiswa terinspiratif dan penulis terbaik, sertifikasi CME dari Harvard dan Oxford University, penulis lebih dari 333 artikel dan 18 buku [salah satunya The Art of Medicine, Gramedia, 2016, dipromosikan di Amazon.com], pembina Network–Preneur  Initiative Center [NPIC], CEO/Founder Sahabat Literasi Indonesia [Indonesia Literacy Fellowship], pernah aktif di FLP dan FAM, studi S-2 Ilmu Kedokteran Dasar [IKD] Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada [FK UGM] Yogyakarta, email ditoanurogo[at]gmail[dot]com.

 

 

Oleh: Dito Anurogo

 

O, Manusia…

Mentari telah menyapamu sementara engkau dalam pelukan rembulan. Kokok ayam telah mengingatkanmu untuk menyucikan jiwamu, namun engkau terlena dalam buaian bidadari ilusi… yang membuat jiwamu jauh dari Ilahi… Kepada siapakah sebenarnya jiwamu kau peruntukkan? Kepada siapakah sebenarnya ragamu kau persembahkan?

O, Manusia…

Di pohon kehidupan aku bernyanyi, sementara di tanah kenikmatan kau berdiri. Aku peringatkan kau setiap pagi bersama embun yang menari–nari di bawah senyuman sinar mentari, tapi kau menganggap semua itu hanyalah kicauan yang menyejukkan hati dan mencerahkan hari. Bagaimana mungkin harimu cerah, sedangkan hatimu lelah mencari duniawi? Bagaimana mungkin engkau harapkan kebahagiaan dari taman–taman surgawi, sementara cinta-kasihmu terbagi?

O, Manusia…

Aku berteduh sejenak dari terik mentari, mengapakah kau terus bekerja memaksa diri? Aku menyuapi anak–anakku dengan makanan yang kucari dengan paruhku sendiri, mengapakah engkau memberi anak–anakmu dengan rejeki hasil mencuri? Aku membangun sarangku dari pemberian bumi yang kukumpulkan sedikit demi sedikit, hari demi hari, lalu kucari tempat yang damai di dahan pepohonan yang tak berduri. Satu sarang, cukuplah bagiku… asalkan keluargaku masih dapat menikmati udara pagi dan hangatnya sinar mentari. Kini kubertanya padamu, “Mengapa kau bangun pabrik–pabrik, gedung–gedung pencakar langit yang mengganggu ekosistem bumi? Mengapa pula kau dirikan banyak rumah mewah yang akhirnya tak kau tinggali?”

O, Manusia…

Mentari beranjak meninggalkan marcapada, sementara bulan bersiap menjenguk bumi. Anak-anakku telah bersiap–siap untuk tidur dengan sayapku sebagai selimut mereka, dan di sampingku ada pasangan hidupku yang selalu setia bersamaku. Aku heran mengapa kau tak bersama keluargamu… padahal mereka butuh kasih sayangmu, mereka butuh belaian mesra tanganmu, mereka butuh kata-katamu yang menyejukkan hati, mereka butuh bukan hanya banyaknya hartamu, melainkan juga hangatnya hatimu… Tidakkah kau sadari hal ini? Aku mensyukuri semua yang kudapat hari ini, sementara kau mencaci semua yang kau peroleh hari ini. Demi siapakah sebenarnya kau bekerja? Demi apakah sebenarnya kau berusaha?
O, Manusia…

Bulan–bulan sedang berdansa, bintang–bintang sedang menari, galaksi–galaksi sedang bernyanyi. Benar…semesta sedang berpesta. Aku akan mengajak jiwamu terbang mengangkasa sebelum paruhku kaku dan diriku fana. Aku akan mengajak dirimu ke tempat dimana tiada lagi penderitaan, tiada lagi kesengsaraan, tiada lagi kehampaan. Itulah negeri Abadi. Disana yang ada hanyalah kebahagiaan, kenikmatan, serta keabadian. Engkau dengan mudah dapat mencapainya asalkan hatimu tetap terjaga meskipun dirimu tertidur. Tiada kata yang tepat untuk menceritakan kebahagiaan disana pun tiada pena yang dapat untuk melukiskan dan menuliskan segala kejadian di sana.

O, Manusia…

Dengarlah, aku akan berdendang untukmu… Kupersembahkan kidung ini khusus untukmu, agar kau selamat dalam menempuh perjalananmu menuju negeri Abadi. Dengarlah, resapilah, dan simpanlah dalam hatimu…, pesanku lagi, bila umurmu panjang, wariskanlah kidungku pada anak cucumu sehingga mereka semua bisa bahagia bersamamu kelak di negeri Abadi.

Dengarlah… aku akan mulai bernyanyi,

“Ribuan orang,
kau kenal,
percuma saja,
kalau kau,
tak kenal,
dirimu sendiri.”

“Ribuan negeri,
kau taklukan,
percuma saja,
kalau kau,
tak taklukkan,
diri sendiri.”

“Ribuan senyum,
kau berikan,
percuma saja,
kalau senyummu,
tak tulus,
dari hati.”

“Ribuan kata,
kau ucapkan,
percuma saja,
kalau terucap,
tidak dari,
hati nurani.”

“Ribuan hari,
kau lewati,
percuma saja,
kalau tidak,
kau cerahkan,
ribuan hati.”

“Ribuan li,
kau tempuh,
percuma saja,
kalau tidak,
kau tempuh,
jalan Abadi.”

“Ribuan buku,
kau baca,
percuma saja,
kalau kau,
tak baca,
ayat Ilahi.”

“Ribuan musik,
membuatmu menangis,
percuma saja,
kalau kau,
terus menertawakan,
musik Surgawi.”

“Ribuan ruang,
kau hiasi,
percuma saja,
kalau tidak,
kau hiasi,
ruang Hati.”

“Ribuan rumah,
kau bangun,
percuma saja,
kalau kau,
tak kunjungi,
rumah Ilahi.”

“Ribuan penyakit,
kau obati,
percuma saja,
kalau kau,
tak obati,
penyakit hati.”

“Ribuan samudera,
kau arungi,
percuma saja,
kalau tidak,
kau arungi,
samudera Hakiki.”

“Ribuan mutiara,
kau persembahkan,
percuma saja,
kalau tidak,
kau persembahkan,
Cinta Sejati.”

“Ribuan bidadari,
kau cintai,
percuma saja,
kalau tidak,
kau cintai,
Diri Sejati.”

“Ribuan misteri,
kau buka,
percuma saja,
kalau kau,
tak membuka,
Tabir Ilusi.”

“Ribuan tempat,
kau kunjungi,
percuma saja,
kalau kau,
hanya dapat,
nikmat sesaat.”

“Ribuan peristiwa,
kau alami,
percuma saja,
kalau tidak,
kau ambil,
hikmah Hakiki.”

“Ribuan kehidupan,
kau ubah,
percuma saja,
kalau tidak,
dimulai dari,
diri sendiri.”

“Ribuan hal,
kau pahami,
percuma saja,
kalau kau,
tak pahami,
hakikat Diri.”
 

 

O, Manusia…

Aku mencintaimu meski kutahu kau tak mencintaiku, karena dari dahulu, diriku tercipta untuk dirimu. Kau awetkan aku dan kubalas dengan tubuhku yang dapat menambah pundi-pundi hartamu. Kau kurung aku dan kubalas dengan kicauan merduku. Kau buru aku dan kubalas dengan bulu-bulu indahku. Kau tembak aku dan kubalas dengan telur yang menyehatkanmu. Kalau aku hanya memikirkan diriku dan keluargaku, maka takkan mungkin aku mau berkorban untukmu. Biarlah aku mati, asalkan kau bahagia… Bagiku, hidup yang sekali ini, biarlah berarti … untukmu … selamanya ….

 

Profil Naratif Penulis

Dito Anurogo, dokter penggiat sastra dan pembelajar humaniora, dokter digital/online di detik.com, peraih ‘’Gadjah Mada Awards’’ 2015 kategori mahasiswa terinspiratif dan penulis terbaik, sertifikasi CME dari Harvard dan Oxford University, penulis lebih dari 333 artikel dan 18 buku [salah satunya The Art of Medicine, Gramedia, 2016, dipromosikan di Amazon.com], pembina Network–Preneur  Initiative Center [NPIC], CEO/Founder Sahabat Literasi Indonesia [Indonesia Literacy Fellowship], pernah aktif di FLP dan FAM, studi S-2 Ilmu Kedokteran Dasar [IKD] Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada [FK UGM] Yogyakarta, email ditoanurogo[at]gmail[dot]com.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia
Tampilan Visual Ikonik Scatter Hitam Menjadi Sorotan Utama Dengan Sensasi Misteriusnya
Target Maxwin Diraih Melalui Strategi Menjaga Ketahanan Modal Harian
Fondasi Utama Meraih Hasil Maxwin Secara Bertanggung Jawab Adalah Ketenangan
Fenomena Hasil Maxwin Terencana Diraih Dengan Kunci Utama Mengendalikan Keputusan Terburu-Buru
Pengalaman AI dan Visual Interaksi Meja Siaran Paling Jernih Dihadirkan Oleh Live Kasino
Ritme Pengalaman Menikmati Hiburan Studio Tanpa Bepergian Dihadirkan Live Kasino
Arsitektur Grafis Digital Pragmatic Play Diakui Kekuatannya Oleh Banyak Pihak
Ulasan Tema Petualangan Menegangkan Dari Pragmatic Play Disambut Hangat Oleh Penggemar
Desain Karakter Menghibur Dari Pragmatic Play Selalu Menunjukkan Kreativitas Yang Relevan
Elemen Scatter Hitam Selalu Menggoda Dengan Pesona Tampilan Ikonik Yang Misterius