iklan banner pemrov sulsel
Pemerintah-Kabupaten-Bantaeng
Banner PDAM Makassar

Ketidakpastian Cerita Pendek Karya Darah Mimpi

waktu baca 10 menit

Loading

Jika kau terlena dengan pandangan kekasihmu ketika binar matamu bertautan, maka tidak dengannya.

Ia sosok yang unik, akan tersenyum sendiri di pagi yang masih malu-malu, memanggil mentari seperti bersiul menjinakkan hewan peliharaan. Menantikan awan-gemawan berhamburan di langit tak bertuan, laksana bermain dengan gulungan ombak yang berlarian di lautan. Imajinasinya menumbuhkan bahwa burung-burung yang seringkali bertengger di tiang-riang listik adalah para penganggur zaman yang menunggu kematian. Sementara manusia yang berlalu-lalang dengan beranekaragam kesibukan, baginya merupakan hantu mesin yang tidak pernah mengenal kata lelah. Mereka terus saja berjalan tidak mau berhenti jika jantung belum disengat malapetaka, atau organ vital yang lain belum disiram racun oleh semesta.

Ia, teranggap pelamun, yang duduk di atas bukit pinus kampung, tidak sanggup melakukan apa-apa. Bukan tersebab fisiknya terluka, apalagi beralasan keluarganya berada, ia tahun ini hanya sedang menunggu sebuah kepastian. Kepastian yang tidak pernah dipahami oleh keluarganya. Pemuda itu nyaris dianggap sinting karena kesehariannya hanya pulang pergi dari bukit pinus, duduk di tepi tebing, memandang ke arah pegunungan, memanggil-manggil mentari, mengharapkan setiap hari kabut tidak mengusap lenteranya yang menerangkan bumi.  Sementara bulan ini adalah musim penghujan. Ia seperti bocah kecil yang merengek meminta mainan.

“Mau pergi ke bukit lagi? Tidak sarapan, Zi?”

“Nanti setelah pulang dari bukit pasti sarapan, Mak.” Jawabnya tenang dengan lemparan senyuman. Ia lantas melambaikan tangan, bergegas melewati pintu depan. Lari kecil-kecil menapaki gang-gang kampung. Menyapa tukang sayur keliling, mengajak tersenyum para ibu rumah tangga yang sudah berdesak-desakan di sekitar gerobak sayur.

Kabut menggumpal-gumpal di langit. Embun masih menetes meski waktu telah menunjukkan ‘keterangan’ tajam. Jika kau lirik arloji yang melingkar di lengan kirinya, maka angka telah menunjukkan pukul tujuh. Ia masih saja sibuk berlari menuju puncak bukit. Menginjak rerumputan liar, menyibak ilalang-ilalang. Ayam berkokok menyoraki kepergiaannya. Ibu-ibu mendadak berkumpul di beranda rumah Pak Rt, berbisik-bisik. “Dia kurang kerjaan saja, tidak bisakah otaknya merakit sebuah pekerjaan yang lebih berharga? Semisal membantu ibunya panen cabai? Apa untungnya setiap hari pergi ke bukit?”

“Mungkin sedang ingin menemui seorang bidadari di sana!” Ibu yang lain menyambung. Tawa menjelegar. Membunuh hening dan gigil pagi yang tajam. Emak sedang membungkukkan badan di bawah kerindangan pohon mangga, menyapu dedaunan kering yang digugurkan sepoi angin malam tadi. Ia sedikit terganggu, mengangkat lehernya, mengabaikan sejenak sampah-sampah yang telah menggunung di hadapan kakinya. Rumah Pak RT ada di sebelahnya, hanya dilompati jalan raya yang tidak terlalu lebar.

“Sedang melamun menanti mukjizat bisa dapat pekerjaan yang baik!”
“Hahaha.”

“Atau mungkin sedang bertapa agar ATM-nya langsung keisi jutaan uang yang bisa digesek,”

“Sepulangnya dari Bandung, dia seperti pemuda pemurung yang tidak bisa bergabung dengan remaja kampung,”

“Jangan pernah sekolahkan anak kita tinggi-tinggi, ia hanya akan menjadi pendebat dengan kecerdasannya dan pelamun yang nganggur. Buktinya Dewi tetangga kita, setelah lulus dari universitas dia hanya pandai berkata-kata, menyanggah ini dan itu, namun tidak jelas apa yang dilakukannya, ujung-ujungnya juga nganggur tidak dapat pekerjaan.”

“Harga seikat kangkung berapa, Bu?” tanya Emak. Wajahnya mengembang. Ibu-ibu langsung bungkam, khawatir kasak-kusuk mereka terdengar. Burung-burung yang menggigil di tiang-tiang listrik hambur, terbang mencari ilalang kering untuk membangun sarang. Mentari menyembul malu-malu, lenteranya tidak terlalu kuning, kabut membuatnya nyaris memutih. Jago tetangga diam.

“Tiga ribu, Bu!”

“Tolong pesankan satu ya? Uangnya sebentar saya ambil!”
Salah satu dari mereka segera memesankan kepada pedagang sayur keliling, usainya langsung masuk ke dalam rumah masing-masing, meracik bumbu, menyiapkan makan siang.

Zi melipat tangannya, melingkarkan di depan lutut, mematri mentari yang dikelilingi kabut. Embun membuat celanan training yang dikenakannya basah. Kaos abu-abunya tampak melekat di tubuh sebab keringat lengketnya. Napasnya tersengal, anggap saja baru jogging di pagi hari. Bukankah itu menyehatkan? Ia selonjorkan kedua kakinya, tangannya tertumpu di atas rumput, setengah rebah menghadap ke dunia Timur. Pegunungan tampak samar, birunya tidak tajam. Tebing yang ada di hadapannya digantungi kabut, daun berumbai tumbuhan pakis dipenuhi dengan butiran embun. Alam raya kedinginan, hanya puluhan pohon pinus yang masih berdiri tegak walaupun kabut mengusap lembut daunnya yang serupa jarum. Ia sejenak diam, menikmati panorama yang silu. Sorot matanya sedang beranjangsana pada dimensi lain. Seperti ada ruh dunia berbeda yang ingin dipeluk erat. Seperkian detik bibirnya mengembang, ada garis khayal yang ia urai berbentuk senyuman.

“Tuhan, aku ingin hari ini terang, biarkanlah padi-padi menguning, izinkan buah dan sayur-sayuran warga dipanen.” Gumamnya pada desisan angin. Kabut sedikit kabur, menerangkan keadaan alam di bawah tebing. Sawah seperti karpet hijau yang dibentangkan Tuhan, ladang dengan aneka tumbuhan adalah tangan-tangan pencernaan. Dari kejauhan tampak  titik hitam, namun kau harus yakin bahwa mereka adalah salah satu petani, sedang membungkukkan punggung, sebagian  bertudung, sibuk memberi pupuk, sebagian sibuk mencangkul.

Perutnya keroncongan, ia bergegas pulang. Melahab masakan Emak yang dihidangkan di meja makan.

“Zi, nanti sore antarkan Emak kondangan ke kampung sebelah, ya?” kata Emak. Ia baru saja bangun tidur, mandi dan sujud.

“Sore jam berapa, Mak? Aku mau pergi ke bukit lagi,”

Jendela rumah tampak berembun. Kabut kembali tebal membuat siang mengelam. Tetangga pada beringsut di dalam ruangan. Anak-anak tidak ada yang bermain petak umpet dan gobak sodor. Semuanya terpana di hadapan layar bercahaya yang mampu menerbangkan imajinasi mereka ke luar negeri dan kerajaan-kerajaan maya.

“Zi, hujan! Kamu bisa masuk angin jika melamun terus di bukit,”

“Pekerjaanku belum selesai, Mak!”

“Pekerjaan apa? Melamun kau bilang bekerja? Emak kecewa bertahun-tahun membanting tulang untuk membiayai kuliahmu! Besarnya hanya jadi pelamun di bukit seperti itu?”

“Mak, jangan mengambil  kesimpulan dulu. Aku sedang menunggu,”

“Menunggu apalagi? Sebentar lagi kau skripsi tapi kerjaanmu melamun saja?”
“Mak… “

“Sudahlah nanti Emak nunggu Bapakmu pulang dari sawah saja.”

Emak masuk ke ruang tengah, mengambil tumpukan baju kering, menyetrikanya sambil ngomel-ngomel. Zi hanya melenguh pasrah. Ia melangkah kembali menuju bukit pinus.

Gerimis menyelimuti alam. Ia merapatkan sweter yang dipakainya, fokus pada jemari yang dieratkan pada gagang payung, sementara langkahnya menyibak semak-semak. Tetangga rusuh, memuntahkan kalimat apa saja yang dapat dikeluarkan. Berkasak-kusuk tidak jelas pada suami yang sedang meneggak kopi hangat, atau menggosip lewat udara dengan bantuan gawai canggih masa kini.

“Zi lagi berangkat ke bukit, kuperhatikan lama-lama ia seperti orang yang sinting.

“Iya, barusan lewat depan rumahku, naik ke bukit, kau lupa jika rumahku dekat dengan bukit pinus? Sebelum kau memberitahu, tentu aku sudah tahu lebih dulu,”

“Bagaimana mungkin orang yang berpendidikan tinggi dari luar kota justru sering melamun di atas bukit pinus itu?”

“Aku pun tidak tahu. Rasa-rasanya lebih baik anak kita yang pendidikannya kurang namun bisa membantu di sawah dan di ladang.”

Ia berdiri mematung, memandang hamparan lahan penduduk yang terlihat samar sebab kabut mengambang. Musim hujan memang sedang mengajak bergurau, kata nenek moyang hujan membawa keberkahan. Namun tidak di desa itu. Tanaman jarang dipanen. Ulat sering menyantab buah yang ditanam, ditambah pengairan sawah yang kurang kondusif. Terkadang volume air di sawah melimpah, namun lebih sering airnya kurang. Sungai kecil yang mengalir di sepanjang sawah tidak mencukupi lahan-lahan penduduk. Andaikan saja ia mampu merayu Tuhan agar mau melebarkan sungai dan mengusir batu-batuan besar itu, tentu ia sudah melakukannya sejak dulu dan air akan mengalir dengan lancar.

Begitulah keseharian Zi di rumah ketika pagi dan sore datang, melamun di atas bukit. Ia seolah tidak pernah memiliki rasa bosan dengan panorama alam yang hanya itu-itu saja. Justru ada rindu yang dititipkannya jikalau sehari saja ia tidak singgah.

“Zi, tolong belikan Emak sayur sawi di tukang sayur keliling, Emak sedang sibuk meracik bumbu!”

Pinta Emak dari dalam dapur. Zi baru saja melangkah keluar, ia melenguh panjang.

“Zi, jangan membantah perintah Emak! Kau bisa dapat dosa! Tidak percaya buka Alquran!”
Dua kali ia melenguh. Mau tidak mau melaksanakan.

“Tapi setelah ini Zi pamit ke bukit ya, Mak?”

“Apalagi yang kau cari?”

“Zi menyukai tempat itu, Mak! Ada hal besar yang sedang Zi pikirkan.”
“Buat apa Emak menyekolahkanmu jika kau hanya menjadi pelamun seperti itu? Emak malu dengan kasak-kusuk tetangga kita!” Emak geram, ia keluar dengan mengacungkan pisau. Zi justru tersenyum menatap ekspresi emak yang dianggapnya lucu.

“Bukan pelamun, Mak! Pemikir! Aku sedang memikirkan suatu hal yang besar,”

“Emak hanya butuh kepastian kau lulus, diwisuda, dapat ijazah, cari kerja lalu menikah! Sudah tidak ada yang lain, nggak usah melamun lagi!”

“Itu pasti, Mak!”

“Sudahlah belikan Emak sayur di depan, Emak tidak mau berdebat denganmu. Emak pasti kalah, Emak tidak tahu teori memenangkan debat.”

“Aku tidak berdebat, Mak.”

“Orang pintar di sekolah-sekolah tinggi itu selalu berdebat bukan?” Emak menggerak-gerakkan tangannya, membuat pisau yang teracung tampak mengerikan. Zi di ambang pintu, Emak di ruang tamu. Wajahnya berminyak terkena asap masakan. Sofa-sofa bisu menjadi pendengar.

“Emak, mereka sedang berdiskusi dan berpikir, bukan berdebat.”

            “Lah, tetangga kita bilang lebih baik tidak sekolah tinggi daripada jadi pendebat dan pelamun saja,”

“Tetangga kita bilang seperti itu karena mereka tidak sekolah tinggi, Mak.”
“Tapi kau terbukti jadi pendebat, Zi!”
“Aku sedang berpikir, Mak!”
“Itu kan kau keras kepala!”

“Zi beli sawi dulu, Mak.”

***

            Seminggu lagi Zi akan kembali ke Bandung, melanjutkan belajarnya yang belum usai. Ia bertambah rajin ke bukit. Sepulang dari bukit, pemuda itu akan mengurung dirinya di dalam kamar. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengganggunya. Meski Emak berkali-kali mengetuk pintu kamar menyuruhnya makan, tetap saja ia tidak terusik. Mungkin kau sempat berasumsi ia sedang bertelpon atau chattingan dengan seorang kekasih hingga lupa waktu. Tidak! Itu tidak pernah terjadi. Ia diam, membalut tubuhnya dengan selimut, berpikir menerawang alam, lantas memejamkan matanya dalam-dalam.

“Zi! Sebentar lagi kau berangkat kuliah! Belajarlah, baca buku, jangan banyak melamun! Mana mungkin kau akan menjadi seperti Emak? Tidak bisa apa-apa, membaca pun terbata-bata,” ungkap Emak pilu ketika mendapatinya melangkah keluar. Emak menghentikan gerakan sapu lidinya. Ia sedang menyapu halaman rumah. Angin malam menggugurkan helai-helai daun manga, membuat Emak terjebak dengan rutinitas membersihkan sampah daun-daun kering itu.

“Iya, Zi! Kau itu harus berguna. Jangan seperti orang linglung, mahasiswa kok kerjaannya makan minum tidur. Berpikirlah yang cerdas demi kemajuan banyak manusia!” Celoteh tetangga yang sedang memilih sayuran. Tukang sayur hanya diam, ibu-ibu yang lain nyengir tidak jelas. Wajah Emak memerah, ia sedikit tidak terima anaknya dihina.

“Kasihan Ibumu, sudah tua! Seharusnya kau gantikan punggung Ibumu untuk mencari nafkah, bukannya malah melamun membayangkan hal yang tidak pasti!”

“Hal yang kalian anggap tidak pasti itu akan menjadi pasti.” Ungkap Zi tegas dan lugas.

“Mak, Zi pergi dulu.”

Emak mengelus dada.

“Zi tidak akan ke bukit, Mak. Tapi ke kantor kelurahan.”

Semua orang menatapnya heran. Emak diam saja membiarkan anaknya menghilang.

Hari selanjutnya penduduk kampung dikumpulkan di aula kecamatan. Kepala desa berpidato mengenai pertanian. Orang-orang duduk mendengarkan. Emak ikut diundang, ibu-ibu yang sering menggosip pun diikutsertakan. Aula penuh berbau keringat warga tidak mandi bercampur dengan parfume non alkohol. Detik itu merupakan sejarah dari ketidakpastian Zi yang sering dianggap pelamun. Tentu saja sosoknya yang mendadak berdiri di hadapan warga membius ruangan, membuat mata-mata tercengang, Emak bahkan sampai mengucek matanya tidak percaya.

“Kita akan melebarkan sungai di bawah bukit agar volume air yang mengalir bertambah. Selain itu kita juga akan membuat saluran pembuangan di sawah-sawah petani agar air tidak terlalu menggenang. Desa akan mengeluarkan bantuan untuk membangun sebuah irigasi sawah. Bukan hanya itu saja, mulai besok lahan akan dibagi berdasarkan tingkat kesuburan tanahnya. Akan ada penduduk yang dianjurkan menanam cabai, sayuran, buah-buahan, juga padi. Hal ini untuk mengurangi kegagalan panen di masa mendatang. Selain itu, saya juga menganjurkan agar hasil panen penduduk dapat dinikmati warga sekitar. Jangan sampai kita yang diberi kekayaan alam melimpah oleh Tuhan masih saja membeli sayuran dari luar, seharusnya mereka yang membawa sayur dan buah-buahan dari kampung kita. Bagaimana solusinya? Kita akan bersama-sama membangun sebuah pasar desa sederhana, di situlah tempat pembuangan panen warga. Hasil alam akan kita perjual-belikan dengan harga standar.”

“Anakku bukan pelamun dia sedang berpikir, Bu.” Ucap Emak sembari menatap Zi yang masih berkicau di depan.

“Anakmu sekolah apa?”

“Pertanian. Ya, dia akan menjadi sarjana pertanian, sekarang biarlah dia terus memikirkan hal yang tidak pasti, kalian tidak kuizinkan menggosipkannya lagi sebagai pelamun.” Kata Emak lagi.

Magelang, 24 Agustus 2017.

Darah Mimpi bernama asli Titin Widyawati. Penulis asal Magelang. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia
Tampilan Visual Ikonik Scatter Hitam Menjadi Sorotan Utama Dengan Sensasi Misteriusnya
Target Maxwin Diraih Melalui Strategi Menjaga Ketahanan Modal Harian
Fondasi Utama Meraih Hasil Maxwin Secara Bertanggung Jawab Adalah Ketenangan
Fenomena Hasil Maxwin Terencana Diraih Dengan Kunci Utama Mengendalikan Keputusan Terburu-Buru
Pengalaman AI dan Visual Interaksi Meja Siaran Paling Jernih Dihadirkan Oleh Live Kasino
Ritme Pengalaman Menikmati Hiburan Studio Tanpa Bepergian Dihadirkan Live Kasino
Arsitektur Grafis Digital Pragmatic Play Diakui Kekuatannya Oleh Banyak Pihak
Ulasan Tema Petualangan Menegangkan Dari Pragmatic Play Disambut Hangat Oleh Penggemar
Desain Karakter Menghibur Dari Pragmatic Play Selalu Menunjukkan Kreativitas Yang Relevan
Elemen Scatter Hitam Selalu Menggoda Dengan Pesona Tampilan Ikonik Yang Misterius