iklan banner pemrov sulsel
Pemerintah-Kabupaten-Bantaeng
Banner PDAM Makassar

Salah Faham, Warga Desa Senggreng dan Simbigede Saling Menutup Jalan Gunakan Tembok

waktu baca 2 menit
Tembok batako yang dibangun warga Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, di jalan penghubung antardesa yang kemudian dibongkar lagi beberapa jam kemudian, Minggu (10/5/2020)

Malang – Minggu (5/11/2020) siang sekitar pukul 08.00 WIB, tampak warga Desa Senggreng dan Sambigede di Kecamatan Sumber Pucung, Kabupaten Malang Jawa Timur saling menutup akses jalan desa menggunakan campuran semen dengan batako.

Penutupan jalan ini dilakukan dalam rangka social distanching guna menghindari penyebaran Covid-19.

Tembok setinggi kurang lebih 1 meter ini hanya bertahan beberapa jam saja kemudian warga membongkar kembali tembok tersebut.

Menurut informasi, awalnya pihak Desa Sambigede menutup akses jalan sejak 23 April selama 14 hari menggunakan portal bambu. Namun, setelah lewat 14 hari portal tersebut tidak kunjung dibuka. Melihat hal itu, warga Senggreng merasa jengkel dan balik menutup jalan menggunakan batako.

Camat Sumberpucung M Sholeh, Senin (11/5/2020), mengatakan jalan antardesa itu sudah kembali normal setelah tembok dibongkar bersama-sama oleh masyarakat disaksikan pihak kecamatan dan aparat. Pembangunan tembok itu sendiri didasari atas kesalahpahaman terkait social distanching antara warga kedua desa.

Tembok penutup jalan dibongkar pada hari yang sama

Meski hanya berdiri selama beberapa jam, namun pendirian tembok di tengah jalan itu sempat viral di media sosial. “Saat itu juga langsung dibongkar karena ada kesalahpahaman,” kata Sholeh.

Kepada kompas.com, Kepala Subbagian Humas Kepolisian Resor Malang Inspektur Dua Nining Kusumawati membenarkan jika tembok yang sempat viral itu telah dibongkar. “Pagi dipasang, sekitar pukul 08.00, dan siang harinya langsung dibongkar. Tidak sampai satu hari,” katanya.

“Itupun bukan semua warga yang komplain. Hanya warga yang tinggal di sekitar desa itu saja yang komplain. Mungkin maksud mereka hanya satu pintu untuk social distanching. Hanya saja tidak ada pembicaraan, tidak ada komunikasi antarkeduanya,” katanya.

Setelah mendapat penjelasan dari pihak kecamatan, menurut Soleh akhirnya saat itu juga tembok dirobohkan. Sebagai gantinya hanya dipasang portal untuk social distancing. Setelah itu ada jadwal khusus kapan pintu portal dari bambu tersebut dibuka dan ditutup kembali. (*MUL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777