iklan banner pemrov sulsel
Banner PDAM Makassar

Mahasiswa di Bulukumba Jadi Korban Pembusuran, 10 Pelaku Ditangkap Kurang dari 24 Jam!

waktu baca 3 menit
Para pelaku pembusuran saat diamankan di Mapolsek Bulukumpa. Barang bukti anak panah dan ketapel turut disita. ||handover
Aksi Brutal Anak Panah: Mahasiswa Jadi Sasaran Dini Hari

BULUKUMBA, SUARALIDIK.com – Aksi kekerasan yang melibatkan senjata tradisional kembali terjadi. Kali ini, seorang pelajar berinisial YY (19) menjadi korban pembusuran di Desa Bulo-bulo, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba.

Insiden tersebut terjadi pada Kamis (3/4/2025) dini hari, sekitar pukul 03.15 WITA. Tak butuh waktu lama, polisi berhasil membekuk 10 tersangka, termasuk pelaku utama yang melepas anak panah mematikan itu.

Kejadian bermula saat korban tengah berada di lokasi kejadian. Tanpa diduga, sekelompok pemuda mendekat dan salah satu dari mereka, MA (23), melepaskan anak panah menggunakan ketapel.

Anak panah tersebut menghantam perut sebelah kiri korban. Akibatnya, KU harus dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. Meski kondisinya stabil, insiden ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban.

Polisi Bergerak Cepat: Operasi Lintas Daerah

Mendapati laporan dari korban, Tim Resmob Polres Bulukumba langsung bergerak cepat. Dengan dukungan data intelijen, polisi berhasil mengidentifikasi para pelaku yang diduga terlibat dalam aksi brutal tersebut.

Namun, tantangan besar muncul ketika diketahui bahwa para pelaku telah melarikan diri ke Kabupaten Sinjai.

Tidak ingin buruannya lepas, Tim Resmob Polres Bulukumba bekerja sama dengan Tim Resmob Polres Sinjai.

Hasilnya? Kurang dari 24 jam setelah kejadian, sembilan pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan di wilayah Sinjai. Mereka adalah MAK (17), ER (19), ND (17), AK (23), YA (18), BY (19), ZU (19), AF (14), dan FK (17).

Namun, pencarian belum berakhir. Setelah dilakukan interogasi intensif, polisi mendapatkan informasi penting tentang identitas pelaku utama, yakni MA (23), warga Kabupaten Maros.

Tanpa menunggu lama, tim langsung menuju lokasi persembunyian MA dan berhasil menangkapnya pada Jumat (4/4/2025) dini hari, tepatnya pukul 02.30 WITA.

“Kami bergerak cepat karena kasus ini menyangkut keselamatan warga. Berkat kerja sama lintas daerah, kami berhasil menangkap semua pelaku dalam waktu singkat,” ungkap IPTU Muhammad Ali, Kasat Reskrim Polres Bulukumba.

Barang Bukti dan Pengakuan Pelaku

Dari tangan para pelaku, polisi menyita barang bukti berupa dua anak panah atau anak busur serta satu ketapel. Barang-barang inilah yang digunakan oleh pelaku utama, MA, untuk melancarkan serangan terhadap korban.

Saat diinterogasi, MA mengakui perbuatannya. Ia mengatakan bahwa dirinya sengaja melempar anak panah ke arah korban menggunakan ketapel.

“Saya hanya ingin memberi pelajaran kepada korban,” ujar MA dengan nada datar.

Sementara itu, sembilan pelaku lainnya yang berada di lokasi kejadian membenarkan pengakuan MA. Mereka mengaku turut serta dalam aksi tersebut, meskipun tidak secara langsung terlibat dalam pembusuran. Peran mereka, kata polisi, masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.

Motif Masih Diselidiki

Hingga berita ini ditulis, motif di balik aksi kekerasan ini masih dalam penyelidikan. Namun, ada indikasi bahwa insiden ini dipicu oleh masalah pribadi antara korban dan pelaku.

Penyidik Polsek Bulukumpa terus mendalami peran masing-masing tersangka untuk mengungkap fakta sebenarnya.

“Kami masih menggali motif sebenarnya. Apakah ini murni dendam pribadi atau ada faktor lain di baliknya,” jelas IPTU Muhammad Ali.

Peringatan untuk Generasi Muda

Insiden ini menjadi tamparan keras bagi generasi muda. Penggunaan senjata tradisional seperti anak panah atau ketapel sebagai alat kekerasan bukanlah hal baru di beberapa daerah.

Namun, dampaknya bisa sangat fatal, seperti yang dialami oleh korban KU.

Kapolres Bulukumba melalui Kasat Reskrim mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mudah terpancing emosi apalagi menggunakan kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah.

“Jangan sampai masalah sepele berujung pada tragedi seperti ini. Jaga diri sendiri dan orang lain,” pesannya.

Penangkapan 10 tersangka dalam kurun waktu kurang dari 24 jam menunjukkan profesionalisme dan kecepatan aparat kepolisian dalam menangani kasus kriminal.

Namun, cerita ini juga menjadi refleksi bagi masyarakat tentang pentingnya menahan diri dan menjauhi aksi kekerasan.

Bagaimana pun, hidup damai jauh lebih berharga daripada dendam yang hanya merugikan diri sendiri dan orang lain. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *