Kharisma Damayanti, gadis Petualang ini menulis cerpen ‘Senandung Bis Kota’
![]()
Senandung Bus Kota
Kharisma Damayanti
Tepian kota yang kusaksikan bersama deru laju lalu lalang, roda-roda menggesek aspal hitam. Terik menyengat legam jalanan juga bebunyian membising dari bis kota hingga kereta. Yang berjalan sebatas beberapa, cicak bermesin padat merayap menambah pekat suhu yang mendidihkan ubun-ubun. Lalu aku kan diam menatap selaksa keramaian. Mengantar laju pikirku pada sebuah titik berupa angan. Tentang kebebasan yang lama tak kudapatkan. Juga hawa lapang yang telah kunanti sepanjang aku meringkuk sendirian.

Yang kunanti telah tiba, sebuah baja beroda empat sebesar almari mungkin sepuluh kali lipat lebih besar. Siap membawaku menuju ke sebuah loka di Utara. Menghadiahkanku jejak kasih di perjalanan dengan menimbun banyak kenang. Tentang sanak kadangku yang belum sempat kukenal. Hanya sebatas menyapa pandang lalu kan kembali nanar. Setidaknya, aku belajar ribuan hal dari jiwa-jiwa yang menggelepar akan mimpi. Dan membuatku rebah pada penyesalan, sebab selama ini aku telah abai pada syukur yang kuucap. Ya, hanya sekadar ucap tanpa rasuk dalam relung. Aku masihlah sangsi pasa kasih Tuhan, dan dari mereka aku mulai membelalak nalarku tuk lebih pandai menghias nikmat.
Langkahku menanjak, naik dari pintu depan. Hampir saja aku terjungkal, sebab rokku yang menjuntai diinjak seorang dari belakang. Beruntung kondektur mengawasi dan memawasiku agar mengangkat sedikit kainku. Celingukan. Mencari sisi tenang untuk punggungku yang segera ingin melepas tegang. Ranselku terlalu padat berisi banyak harap dan sebagian lain adalah baju ganti. Sampai seorang bapak dari baris ketiga di belakang sopir memberiku aba tuk bersanding di sebelahnya.
“Mbak, ini masih kosong. Silakan! ”
“Boleh saya didekat jendela saja pak? ”
“Oh, tentu saja. Monggo! ”
Kursi yang kuerami berjejer tiga di baris sebelah kiri, hanya diisi dua tubuh yang paling ujung menyisakan sunyi. Aku menyandar di bangku dekat jendela yang memantulkan beragam warna kehidupan. Sebelahku, seorang bapak berkumis dengan empat matanya tengah asyik mengeja kekata di koran harian. Baru saja ia membelinya dari pengasong yang mengusuk dagangannya kedalam bis. Dengan handuk tersampir di lehernya, sesekali ia gunakan tuk mengusap peluh yang menjalar dari dahi. Dari rautnya kulihat ia masih berusia kepala dua. Namun, tampak gurat resah pada tatapannya. Sempat kami beradu pandang tak sengaja. Sekadar berbalas sungging di bibir dan aku mengangkat kelima jari kanan. Tanda kutolak untuk membeli dagangannya. Iapun hanya mengangguk dengan simpul senyum menawan di wajah semanis senja digantung rindu. Beralih pada lain bangku menodongkan kembali sisa koran di tangan yang tinggal sekian.
Menunggu sesak penumpang sekitar lima belas menit kemudian, bis mulai meninggalkan dermaga utama. Menggesek roda bergerigi meliku alur menyisir jalanan. Aku tenang. Batinku mengucap tasbih bermantra harapan pada Tuhan. Agar supir tak hilang kendali saat menguap, juga handphone tak ia hiraukan kala jemarinya lihai memutar kemudi. Seorang yang sebaya dengan bapak di sebelahku menghampiri, menagih janjiku tuk membayar bangku tenang. Kuberi dua lembar kertas bermata uang dua puluh ribu. Menunjukkan pada tujuanku dan ia mengangguk lalu balas memberiku kertas bukti aku telah melunasi janji. Baiklah, kini apa yang kan kulakukan? Hendak kuambil bekal dari ransel. Sebelum bapak di sebelahku menyapa ramah dan melipat korannya jadi empat bagian.
“Tujuan mau ke Jogja, kuliah di sana mbak? ”
“Oh, tidak Pak! Hanya mau meluangkan waktu merehatkan penat.”
“Sampeyan kuliah dimana? ”
“Saya tidak kuliah Pak, hanya sebatas bekerja di sebuah instansi sekolah sebagai tenaga Tata Usaha dan menggiatkan usaha toko bunga milik ibu saya,”
“Wah, sayang kenapa tidak kuliah? Kan bisa menambah ilmu, wawasan. ”
“Benar Pak, tapi apakah hanya dari bangku kuliah saja kita kan mendapat ilmu? Apakah dari sana saja kita harus belajar?”
“Pertanyaan yang mewakili tanggapan yang cerdas!”
“Lagipula pak, saya sudah tawar dengan mereka yang nyinyir pada perbedaan status sosial. Justru mereka yang lebih tinggi gelar akan kehilangan pamor di mata para awam. Meski tidak semua, tapi cobalah kita tengok kembali. Mereka yang mengenyam pendidikan tinggi kan meremehkan pada awam yang kenyatannya hidup selalu dijadikan media pembelajaran. Lalu, apa yang mereka dapat dari selembar kertas bertuliskan gelar dibelakang namanya? Apa gunanya belajar pada tahap tinggi, jika kan angkuh dan tak punya nilai hidup bersesama? Sejatinya, mereka belum belajar apa-apa. Sedang alam, dunia ini, memberikan kita kelapangan untuk mempelajari berbagai hal.”
“Wah, pemikiran yang luar biasa. Bapak jadi salut. Dan benar, sehabis baca koran harian ini bapak mengiyakan penuturanmu. Ah, lihat koran ini, pengusaha muda sukses. Ia tidak mengenyam bangku kuliah, SMA apalagi. Ia hanya tamatan SD tapi bisa sukses. Baca ini nak, petuahnya mengatakan pendidikan formal mengantarkan kita untuk menjadi buruh atau bawahan.”
“Selebihnya adalah kehendak Tuhan pak. Kita ditujukan untuk memilih jalan hidup kita masing-masing. Bergantung pada keinginan kita juga ridlo dari Tuhan. Yang Ia rencanakan untuk kita, ya itulah yang kan menjadi kebaikan bagi kita.”
Aku kembali menarik garis bibirku. Pun sama, bapak itu melebarkan sumringahnya hingga nampak deretan gigi yang tertata rapi. Sekilas, kuperhatikan bapak itu bukan sembarang orang. Sepertinya ia menduduki suatu jabatan penting dalam tatanan kota. Entahlah, aku hanya tak asing melihat parasnya. Hanya saja, mungkin aku lupa pernah mengetahui dirinya. Aku kembali bersandar dan melegakan ototku. Rasanya sehabis bersitegang dan aku perlu kembali tenang. Membuka bekalku, menyibak mulai dari pembatas buku. Mulai mengalunkan pandang pada kata-kata yang menyusun kalimat. Sebuah buku bercerita tentang petualangan menegangkan. Yang mengajarkan arti keberanian dan ketangguhan.
Berdecak kagum pada buain cerita. Begitu halus alur yang menyairkan kisah Si Hobbit yang bertualang. Sampai aku tak lagi tahu sudah sampai pada kota apa sekarang. Bapak di sebelahku mendengkur, sedikit liurnya menjulur sampai dagu. Aku sedikit terkekeh melihatnya. Bangku yang kosong masih sama wujudnya belum berpenghuni. Ia menggigil, karena AC langsung menerpa tubuh bangkunya. Tak ada yang mengerami dan memberinya rasa hangat. Seolah ia membisik padaku, ia ingin dihilangkan dari sunyi. Ah, imajiku saja yang selalu tergopoh jika harus meratap sepi. Hariku, memang selalu sunyi. Maka dari itu, hidup mengajarkanku berbagai kebutuhan pikir tuk lebih tajam menangkis ilusi.
Bis meliuk kala membelokkan gempal tubuhnya di tikungan memasuki area pemberhentian, entah pemberhentian keberapa. Aku tak ingat, terlalu hanyut ke dalam cerita sampai habis pada lembar akhir, biodata penulis. Kutengok dari jendela bening, berlarian para pengadu nasib mendekati bis yang kutumpangi. Seakan bis ini adalah tujuan surga yang mereka nanti. Pria, wanita tak berbatas usia memanggul di bahunya harapan demi isi perut yang tak mau keroncongan. Bapak di sebelahku terlonjak kaget, dibangunkan oleh seorang pembawa nampan berisi nasi. Aku berjengit, bapak itu sedikit merapat ke tempatku yang sudah sempit. Dan tak tahu kemana lagi akukan menggeser pantat. Aku berbatas badan bis. Mana bisa lagi bergerak ke kanan.
Setelah lumayan tenang, bapak itu kembali ke posisi nyaman. Aku pun kembali meluruskan badan yang sedang ingin berangan. Tentang suatu hal yang kan kujumpai di Jogja. Apakah aku sanggup menatap matanya? Dia yang membuat kakiku berani berkelana seorang diri. Sementara bis mulai melaju menuju ke peraduan akhir. Lamunanku buyar seketika. Sesuatu menarik ulur tatapku tuk terus memerhatikan, juga telingaku dipasang awas khidmat mendengarkan. Seorang muda seusiaku, barangkali. Menjarit si mungil jelita digendong kiri serta tangannya mencengkeram gitar kecil. Tunggu! Tak hanya berdua, ada satu lagi puteranya celingukan tepat disamping bangku dimana aku berdiam dengan seorang bapak. Mereka sejajar denganku jadi leluasa mata ini memerhatikan lekuk semampai mereka. Sang putera berusia sekitar enam tahun menatapku nanar. Matanya penuh harap tuk seseorang kan memberinya dekap.
“Anak manis, mau kakak beri permen? ”
Kuulurkan jemariku yang menggengam lollipop rasa susu. Matanya berbinar kegirangan. Jemariku dibalas lembut sentuhan tangan berkarahnya. Mengambil lollipop dan kulihat parasnya semringah. Sementara itu ibunya berorasi memohon belas kasih kemudian mengalunkan irama dari gitar kecilnya. Kurasa ia hanya sekadar bisa. Jemarinya belum piawai berdawai memetik senar. Suaranya berat, tidak sedang batuk, hanya saja memang terkesan serak. Ia lantunkan senandung yang pilu. Mengisah pada seorang wanita mengandung ditelan malam sunyi. Tanpa suami di sisi. Sejenak liar pikirku mengimaji bahwa ia adalah perumpamaan dari gaung lagunya. Ah, aku selalu saja berpikir macam-macam mengenai banyak orang. Meski baru ku pertama kali memandang.
Kulihat puteranya tengah menyesap manisan. Bibirnya mengulum manja lollipop yang kuberikan. Manisnya kau nak! Selepas sang ibu menghela napas seraya mengumbar gitar. Ia tinggalkan sang putera agar tetap berdiri di tempat yang sama. Menelisik seluruh bangku mengedarkan bungkusan kosong. Tahukan maksudnya? Agar kan ada yang mengisi dengan kelapangan guna mengadakan sesuap nasi. Bapak di sebelah menatapku. Aku merasainya, kukedikkan mata ke arah bocah itu. Lalu kudongakkan tubuhku sedikit ke depan agar lebih jelas bocah itu kutatap. Aku tak ingin ia hilang sekejap. Takut, jika ia hilang seimbang lalu tengkurap. Sungguh, ingin rasanya aku memangku tubuhnya tuk kurangkul. Kuberikan sisa lollipop yang ada.
Ibunya telah memenuhi tugas. Ia datang tanpa binar melainkan raut penat. Dari sekian bangku yang kosong ia duduk sejajar dibangku sama denganku. Di sebelah bapak. Sembari menunggu kan diturunkan di tempat pemberhentian yang ia tuju. Puteranya dibiarkan berdiri, mana bisa ia menahan beban di pahanya seorang lagi. Sedang ia hendak menyusui bayi malangnya. Aku ingin meremas hawa lirih yang diedarkan AC. Entahlah, pemandangan ini menyesakkan. Sekelebat akupun mulai sedikit mengatur gerak.
“Mbak, kasihan puteranya. Boleh saya pangku saja sampai mbak akan turun? ”
“Nanti malah merepotkan mbak. Tidak usah. Sudah biasa kok. ”
Sudah biasa! Aku terbeliak. Seusia bocah itu sudah merasakan pahit hidup. Meski ia sendiri belum mampu menjamah akal tuk mengartikan nasibnya. Bapak di sebelahku angkat reaksi. Ia menarik lembut lengan si bocah. Melewati ibunya kemudian mengangkat dan ia letakkan pantat bocah di pahanya. Aku tersenyum. Bapak ini lekas mengambil tindakan dari jarak lebih dekat. Sudah kuduga sebelumnya. Bapak ini bukan orang sembarangan. Kali ini keyakinanku bertambah besar. Beliau punya andil dalam peranan di tatanan sosial. Bapak itu menoleh padaku, menyiratkan kemenangan bahwa ia telah mengentas penderitaan. Tapi belum! Itu hanya siratan.
Lollipop tinggal tulang. Bocah itu melempar gagangnya sembarangan. Merengek pada ibunya yang kelelahan dan masih menyusui buah hati berusia belum genap memasuki bulan kedua belas. Ia meminta lagi Sari madu serupa tadi. Sang ibu melotot menandakan tak ada yang akan diberi meski ia kan meronta sekalipun. Mengancam agar bibir mungilnya diam. Jangan menangis! Aku masih membawa tiga lagi. Kurogoh ransel terdepan hingga kudapati dua bulir permen bergagang. Kuberikan pada si kecil dan lengkung bibirnya menyungging pelangi terbalik. Ah! Manis sekali kau nak! Sekali lagi aku terpana. Hingga sang bapak memulai aksi percakapan yang hangat dengan ibu muda
“Mbak, sudah lama mengamen? ”
“Eh, iya pak sudah lama. Sebelum anak kedua saya lahir, saya sudah mengamen. Tepatnya saat si buyung berusia tiga tahun. Sekarang sudah enam tahun.”
“Wah, lama juga ya mbak,” Aku ikut menyambung dalam dialog tanpa adu argumen.
“Iya, kalau tidak begini bagaimana mau menyambung hidup? Semua kebutuhan mahal. Pekerjaan tidak punya, hanya bisa mengamen seadanya. ”
Hening. Hanya deru kemudi serta sesekali klakson memekakkan telinga. Melejit mengaba-aba pada yang sedang menghalanginya. Aku terpaku, sedikit bisa merasai suasana haru. Ribuan pertanyaan menyeruak dari kepalaku. Lantas kuberanikan menelurkan pikirku lewat bibir yang kurias merah jambu.
“Mbak, maaf sebelumnya suami mbak masih ada? ”
“Sejak buyung berusia tiga tahun, ia pergi entah kemana. Tak tahan pada himpit kemiskinan. ”
“Mmm…. Maaf ya mbak. Lalu, buyung sekolahkan? ”
“Tidak! Saya tidak punya biaya mendaftarkan buyung di sekolah. Mengobati si upik ini saja saya sudah berat. ”
Kuperhatikan lagi yang digendongnya. Aih, aku tak begitu cermat tadi. Kepala si upik tak sewajarnya, terbelit topi sehingga menipu mata. Lebih besar dari seusianya, astaghfirullah…. Aku menarik napas dan menahan berat. Mataku perih, ingin berteriak pada langit luas mengapa ujian dahsyat menimpa ia yang masih muda. Bapak di sebelahku mengepal tangan kanan. Aku melihatnya seakan hendak meninju alam. Seketika ia berkata menunjukkan identitas yang sebenarnya.
“Inilah alasan mengapa aku naik bis kota. Sebelumnya, aku bersedan dengan supir pribadi. Aku ingin tahu secara langsung, bagaimana nasib rakyat yang harus kunaungi. Janjiku saat dipilih apakah telah kulaksana dengan baik. Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah.”
“Bapak ini….” Aku tak melanjutkan cakapku, sebab bapak itu keburu memutus dengan berujar.
“Ya, aku memilki kewenangan mengurus rakyatku. Amanah yang kuemban. Dan aku lalai. Sebab mengapa aku melakukan perjalanan dengan fasilitas umum. Seraya kulihat, kuamati apakah masih ada ratap. Aku belum mampu memenuhi janjiku ternyata. Mbak namanya siapa? ” Bapak itu menyesali dirinya nampak dari raut muka serta cara bertutur.
“Kula Siyam pak! ”
“Baiklah Siyam, ini bukan hanya untuk dirimu. Aku akan tegakkan kembali keadilan dan kesamarataan. Kau dan kedua anakmu tak usah khawatir. Pendidikan dan jaminan kesehatan. Aku akan usahakan untuk kalian dan semua rakyatku. Daerah mana kau tingggal? Agar mudah aku dan para staff mencari. Juga menelisik area lain guna menyapu bersih perkara sosial. Aku ingin seluruh rakyat sejahtera. ”
Aku menghela napas. Panjang kutarik dan kuhembus membaur bersama resah kepala mengantri asa. Aku lepas penat pikir pada ibu muda. Pada akhirnya, yang diharapkan hanya satu. Kesamarataan. Dalam hal apapun. Sebab hidup bersinggungan dengan kasih. Semua berhak menyandang strata yang sama. Tak ada beda. Hanya takdir yang menggantung di langit semoga kan jatuh pada untung nasib. Kita tak tahu, Tuhan kan berencana apa. Satu, percayalah janjiNya adalah kebaikan bagi kita.





