Semangat Persatuan Harus Diutamakan, Polemik Keikutsertaan Komunitas Waria di Gerak Jalan HUT RI ke-81 Sinjai Selatan Diharapkan Berakhir Bijak
![]()
SINJAI SELATAN, Suara Lidik.com– Menjelang pelaksanaan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026, Panitia HUT RI Kecamatan Sinjai Selatan menggelar rapat koordinasi guna mematangkan seluruh rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan selama bulan kemerdekaan.
Dalam rapat tersebut, salah satu keputusan yang menjadi perhatian adalah terkait pelaksanaan lomba gerak jalan. Panitia menyepakati bahwa kegiatan yang diperkirakan akan dihadiri banyak peserta dan penonton itu tidak mengikutsertakan komunitas waria dalam identitas komunitasnya, kecuali apabila peserta mengikuti ketentuan sebagai barisan laki-laki atau perempuan sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan panitia.
Keputusan tersebut kemudian memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat, termasuk dari kalangan komunitas waria. Salah seorang perwakilan komunitas mengaku merasa keberatan karena, menurutnya, setiap tahun keberadaan waria selalu menjadi bahan perdebatan dalam momentum perayaan HUT RI.
“Kalau memang kami dianggap pendosa, biarlah itu menjadi urusan kami dengan Tuhan. Namun surga juga belum tentu menjadi tempat bagi siapa pun. Kami hanya ingin dihargai sebagai sesama manusia,” ungkapnya.
Menyikapi polemik tersebut, Ketua Poros Rakyat Media Group Indonesia (PRMGI) Sulawesi Selatan, Abas Kelana, mengajak seluruh elemen masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menyudutkan.
Menurutnya, peringatan HUT Kemerdekaan RI seharusnya menjadi momentum memperkuat persatuan, mempererat silaturahmi, dan membangun semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
“Mari kita junjung tinggi solidaritas antarsesama warga Indonesia. Perayaan HUT RI adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai kemeriahan ini ternoda hanya karena saling menyalahkan. Waria juga manusia yang memiliki hak untuk dihargai sebagai sesama warga bangsa,” ujar Abas Kelana.
Ia menambahkan bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda dan tidak sepantasnya dihakimi secara sepihak.
“Mari kita lebih banyak mengoreksi diri daripada menghakimi orang lain. Tidak ada seorang pun yang memilih bagaimana ia dilahirkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling menghormati, menjaga etika, dan hidup berdampingan dalam suasana yang damai. Banyak dari mereka yang memiliki karya, bakat, serta turut membantu masyarakat di lingkungan sekitarnya. Karena itu, saya berharap polemik ini tidak terus diperpanjang,” tambahnya.
Abas juga mengajak seluruh masyarakat Sinjai Selatan untuk menjadikan bulan kemerdekaan sebagai momentum memperkuat nilai-nilai persatuan, toleransi, dan saling menghargai perbedaan, tanpa mengabaikan aturan yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara.
Di akhir pernyataannya, ia berharap seluruh rangkaian kegiatan HUT RI ke-81 di Kecamatan Sinjai Selatan dapat berlangsung dengan aman, tertib, lancar, dan penuh semangat kebangsaan.
“Kepada teman-teman komunitas waria, saya berharap tetap bersabar dan dapat memaklumi keputusan yang telah diambil panitia. Mari kita bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif demi suksesnya perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Semoga semangat Merdeka menjadi milik kita semua, tanpa mengurangi rasa saling menghormati dan menghargai sesama anak bangsa.”
Salam Santun, Salam Persatuan. Merdeka!






