Renungan Ramadhan Hari ke 28 Pintaku Ya Rohman Keindahan Dulu Akan Kembali
SUARALIDIK.COM – Kebersamaan telah runtuh dan rapuh disambar virus corona. Indahnya kebersamaan yang telah terbangun ambruk seketika dengan penyebaran covid 19. Social distancing atau physical distancing ( jaga jarak ) tak mampu mengobati keterpisahan jiwa yang telah menyatu. Meratapi kedukaan yang telah menusuk sumsung tulang kehidupan tidak seindah dulu.
Keceriaan menyambut Ramadhan tak lagi meriah, masjid wadah pemersatu ummat tertutup rapat. Kegembiraan anak-anak berlomba-lomba ke masjid tiap mendengar suara mengaji dari loud speaker masjid menjelang magrib sirna seketika. Lomba-lomba : adzan, pukul beduk, musik patrol, teriakan sahur-sahur dini hari terasa sepi.
Terkadang hati menggerutu, sedih, rasa iba tampak di wajah berada di bulan suci Ramadhan tahun ini. Terkenang tahun-tahun sebelumnya saat Ramadhan tiba tertidur lelap di atas lantai masjid menanti datangnya sholat dzuhur. Jamaah duduk di sudut-sudut masjid sambil mengkhatamkan al-qur’an betlomba-lomba merebut keberkahan Ramadhan.
Penataan piring dan gelas hidangan berbuka di serambi masjid tak lagi nampak. Anak-anak rebutan ingin mengangkat pemberian kue atau makanan ta’jil dari para penyumbang terasa sepi. Para penjual kue di sekitar masjid untuk mengais rezeki kehilangan mata pencaharian. Undangan berbuka dari berbagai kantor, komunitas, keluarga dan organisasi tak lagi menghiasil medsos.
Para ustadz lebih banyak berdiam diri di rumah dari pada mengisi dakwah islamiyah di masjid dan pesantren kilat. Terkadang sekali-kali berceramah atau mengikuti dialog via zoom. Rencana kegiatan selama Ramadhan telah tersusun rapi sebelum Ramadhan ternyata semuanya di luar ekspektasi. Kita harus berlapang menerima kenyataan ini di luar siklus yang telah terjadwal. Sebelum corona umumnya ustadz /dzah berdakwah secara lisan ( الدعوة باللسان ) adapun pada masa conona berdakwah secara tulisan ( الدعوة بالكتابة ) bisa juga via zoom dan yputube.. Yang penting dakwah dapat tersampaikan kepada ummat dan tidak kaku menghadapi perkembangan tekhnologi alis gaptek.
Semuanya akan berakhir, badai pasti berlalu, hanya kesabaran yang harus ditanamkan pada diri masing-masing agar kita bisa keluar jadi pemenang. Jadilah petarung dan manusia unggul melewati segala cobaan yang mendera. Tidak berputus asah agar pulih dari segala hantaman yang dapat menyurutkan semangat hidup. Terulslah berdoa dan berusaha bangkit di tengah kelesuan kehidupan tak menentu. Ramadhan tahun ini biarlah menjadi catatan hidup kita dan generasi yang akan datang sebagai pendewasaan menghadapi musibah atau cobaan agar lebih hati-hati dan tidak terlena.
Rock Jeans : So many times and opportunities to start something new
Banyak waktu dan kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُون
walaa tay-asuu min rawhi laahi innahu laa yay-asu min rawhi laahi illaa lqawmu lkaafiruun
Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Surah Yusuf : 87). (M.Shodiq Asli Umar).






