Penyair asal Magetan kembali Mempersembahkan Puisinya ‘Perihal Perih si Mungil’
waktu baca 1 menit
_perihal perih si mungil_
Ibu dan bapak, atau siapa saja
Bisakah meraba tatap nanarku
yang memerah marah menahan resah
sebab takut cambuk kan melecut
menjadi rasuk cemas di kalbu
seumur aku menarik ulur angin
Atau,
Bisakah membaca sirat lebam mukaku
yang enggan menyuarakan pilu
ucap telah melebur dengan sunyi
tak mampu bergeming meski dipaksa ingin
sebab takut belati tajam dan runcing
kan sedia menghunus jantung, kapanpun
Aku menggigil bersama ia hadir
ingin menampik, tapi rayu menjadi syahdu
manisan dan mainan menjarah naluri kecilku
tuk ikut hanyut meremas sakit sendiri
sedang ia, berhasi menimang nikmat cendala
Ibu dan bapak, atau siapa saja
ingin rasa kuberlari menjumpai Tuhan
mengadu laraku yang mengeras nelangsa
oleh ia, pengubur masa emasku
dalam kubang durjana
Aku tak mau lagi anisan
atau seribu mainan, hanya inginku berlari
sejauh mentari yang tak kan terkejar
lalu, bersembunyi menangkupkan kedua tangan
di muka kecilku sembari mengiyup
di bawah payung teduh Tuhan
;untuk ia
Om, sudahilah sakitku
aku ingin meraih langit tuk kurangkul mimpi
Om, pergilah dariku
ingatlah usiamu yang tak pernah tahu
kapan saja Tuhan kan membebas nyawa
dari ragamu
Salam dariku,
sepuluh tahun yang mengeja langit kelabu
Tinggalkan Balasan Batalkan balasan