iklan banner pemrov sulsel
Pemerintah-Kabupaten-Bantaeng
Banner PDAM Makassar

OPINI: Yang Hilang dalam Kamus Pembangunan Daerah

waktu baca 5 menit

Loading

Oleh: Andi. Baso Ryadi. Mappasulle, SE
Ketua DPP Pro Lidik Sulawesi Utara
Kepala Biro suaralidik.com Provinsi Sulawesi Utara

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, masyarakat di daerah-daerah telah menikmati pahit manisnya hidup dengan sebuah impian menggiurkan bernama “janji kampanye politik”.
Demokrasi langsung dalam politik lokal kita, menempatkan Bupati/ Walikota tidak sekedar sebagai pemimpin administratif, tetapi sekaligus sebagai chief eksekutive, sebagai pusat harapan, pusat gagasan, dan penentu nasib rakyat banyak.

Karena itulah, Bupati/ Walikota harus cerdas, berani, punya networking luas, bergagasan global, berselera diplomasi tinggi, bahkan harus bergaya blusukan untuk terlibat langsung dalam pusaran persoalan rakyatnya.
Espektasi publik yang demikian besar terhadap Bupati/Walikota inilah yang menyebabkan kontestasi Pilkada di daerah-daerah berlangsung seru dan memanas. Ada dua hal menarik yang bisa kita lihat dari sisi marketing politic; pertama, kemunculan visi-misi kandidat yang serba menggiurkan.

Kandidat mengkonstruksi ulang impian dan harapan publik, lalu mengubahnya menjadi janji politik yang meyakinkan. Tidak sedikit calon pemimpin daerah yang sukses memenangkan pertarungan politik berkat sekarung janji yang menggembirakan.

Kedua, pertarungan politik terkonsentrasi pada siapa yang paling hebat menguasai sumber daya politik. Kandidat harus mempunyai strategi pemenangan yang hebat dan massif. Di samping itu, penguasaan sumber daya politik lainnya seperti ongkos politik, manajemen tim jejaring, serta penguasaan wacana. Pendeknya, pemenang Pilkada selalu tergantung pada dua hal; transformasi janji kampanye politik dan kemampuan mengakumulasi seluruh sumber daya politik.

Pengalaman dari Pilkada ke Pilkada telah menunjukkan, betapa janji politik hanyalah semacam pemanis di bibir saja. Ada bupati/Walikota yang berhasil menjalankan perannya dengan mewujudkan janji-janjinya saat kampanye. Namun, tidak sedikit pula yang ingkar janji dan selama periode kepemimpinannya terkesan tidak melakukan perubahan mendasar.

Dari pengalaman inilah, masyarakat menjadi lebih kritis dan mulai tidak percaya pada janji-janji politik yang melangit. Faktanya, ada beberapa incumbent atau orang dekatnya yang harus tumbang karena kegagalan masa lalu saat berkuasa. Hanya sedikit bupati/walikota yang dapat mempertahankan kekuasaannya, hanya mereka yang betul-betul bisa membuktikan janji politiknya.

Problem lainnya adalah sejumlah Bupati/Walikota yang sudah terpilih biasanya lebih sibuk dalam rutinitas seremonial, koordinasi kelembagaan, dan pembangunan proyek fisik. Hal ini menyebabkan, persoalan-persoalan mendasar di daerah kerap terlupakan.
Masalah-masalah seperti buruknya pelayanan rumah sakit masih melanda sejumlah daerah di Sulawesi-Selatan. Masih banyak rumah sakit yang minim tenaga dokter, pelayanan perawatan di bawah standar, serta kelengkapan medis yang tidak memadai.

Meski, program kesehatan gratis sudah menjadi kebijakan nasional, masyarakat di daerah belum sepenuhnya bisa menikmatinya.
Aspek pelayanan publik di sebagian daerah juga masih jadi persoalan. Logika bahwa birokrasi “hanya melayani dirinya sendiri” masih terasa. Tidak salah bila istilah “raja-raja kecil” masih layak disematkan kepada Bupati/Walikota. Realitas ini harusnya tidak boleh terjadi lagi ditengah kampanye reformasi birokrasi yang sedang gencar-gencarnya.

Terlebih di pemerintahan Jokowi-JK, wacana revolusi mental di kalangan birokrasi harusnya dapat diwujudkan. Para pemimpin di daerah mestinya menjadi teladan dalam hal menggerakkan segala potensi lokal dengan kerja keras dan tanpa korupsi, tampa pamrih.

Bupati/Walikota perlu keberanian dan “political will”

​Nah, Bupati/ Walikota tidak perlu dipilih karena janji-janji politiknya yang super hebat. Untuk membangun sebuah daerah kabupaten, sesungguhnya hanya memerlukan sosok Bupati/Walikota yang berani dan memiliki “political will” yang kuat.

​Seorang pemimpin daerah harus punya “political will” dalam hal pembangunan kebutuhan dasar masyarakat terutama kesehatan dan pendidikan. Apa sulitnya misalnya seorang Bupati/Walikota itu setiap saat harus berkantor di gedung rumah sakit untuk melihat langsung warganya. Tidak sulit misalnya, dinas kesehatan di daerah untuk mendata perkembangan kesehatan masyarakatnya setiap pekan, lalu memberikan tindakan penanganan secepat mungkin.

Selama ini, di beberapa daerah kita kadang-kadang tidak merasakan kehadiran “Negara” dalam hal pelayanan kesehatan. Bahkan, ada begitu banyak orang terutama yang tinggal di daerah pelosok yang masih lebih mempercayai praktek perdukunan ketimbang tindakan medis. Hal-hal seperti ini harusnya tidak perlu terjadi lagi, kalau Bupati/Walikota yang memimpin di daerah itu, sungguh-sungguh bekerja dengan tulus.

Ke depan ini, tantangan pemimpin daerah semakin pelit. Selain, memastikan bahwa kebutuhan dasar publik terpenuhi dengan baik. Bupati/Walikota juga harus bisa bergerak secara paralel dengan visi pemerintahan Jokowi-JK.

Pertama, pemimpin daerah harus bisa efektif dan efisien dalam bekerja. Pemimpin daerah harus bisa berhemat dari segi penggunaan anggaran. Selama ini, kita tahu anggaran di daerah masih lebih besar pasak daripada tiang. Selain ancaman defisit anggaran, Bupati/Walikota juga harus berani mengalihkan perencanaan anggaran yang lebih berorientasi pada program-program kerakyatan. Jadi, sudah bukan jamannya lagi ada Bupati/Walikota yang bermewah-mewah dengan pengadaan mobil dinas, anggaran perjalanan yang besar, dan biaya-biaya teknis lainnya.

Kedua, Bupati/Walikota khususnya di daerah bagian pesisir dan memiliki sumber daya laut, harus bekerja keras untuk mensinergikan programnya dengan visi maritim pemerintahan Jokowi-JK. Hal ini penting, mengingat sejumlah daerah di Sulsel yang memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat melimpah, sejauh ini belum termanfaatkan secara maksimal.

Barangkali hanya Kabupaten Bantaeng saja yang telah bergerak jauh lebih maju dalam mengelolah sumber daya lautnya.
Ketiga, Bupati/ Walikota harus membangun ekonomi berbasis kemandirian lokal. Dalam konteks ini, setiap daerah harus berani menggali potensinya, mengembangkan industri kreatif serta menemukan potensi-potensi alternatif. Hal ini harus diwujudkan mengingat pasar bebas Asean )MEA) sudah dibuka. Daerah harus berdaya saing kuat agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam