Kota Makassar, Peristiwa penolakan pemakaman jenazah pasien terkait Covid-19 yang terus berulang rasanya mengoyak rasa kemanusiaan di negara kesatuan RI ini.
Manusia merupakan makhluk sosial yang akan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Rasa solidaritas atau toleransi perlu dikedepankan dalam menyikapi berbagai hal yang terjadi ditengah pandemi. Juga, rasa kemanusiaan.
Meski pengurusan dan pemakaman jenazah terkait virus korona aman selama dilaksanakan sesuai protokol. Sayang, pemberian stigma dan penolakan masih terjadi.
Hal ini diungkapkan salah satu aktivis Lidik Pro Agus Gugun usai menyimak beberapa video viral warga menolak pemakaman jenazah pasien terkait Covid-19.
“Rasanya tidak mampu melihat video itu hingga selesai, karena video terakhir yang saya simak itu justru ada ketua RT yang juga ikut melakukan penolakan,” ungkap Gugun kepada suaralidik.com, Sabtu (11/4/2020)
Insiden penolakan pemakaman jenazah pasien terkait Covid-19 pernah terjadi di TPU Sewakul Semarang, sebelumnya terjadi juga di Pemakaman Pannara, Makassar, Sulawesi Selatan yang tiba-tiba dihadang warga.

Masih di Makassar, Insiden penolakan warga terhadap pemakaman jenazah korban virus Corona atau COVID-19 juga pernah terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan dan hal ini masih berbuntut panjang lantaran diduga kuat terdapat provokator dalam insidien penolakan itu.
Pantauan suaralidik.com, insiden paling terakhir adalah penolakan pemakaman jenazah dengan indikasi Covid-19 di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah berlalu, hal serupa terjadi. Sekelompok warga menolak pemakaman jenazah di tempat pemakaman umum Sewakul, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Kamis (9/4/2020).
Sungguh miris, sebab yang hendak dimakamkan ialah jenazah salah satu perawat RSUP Dr Kariadi Semarang. Ia meninggal di tengah perjuangannya merawat pasien positif Covid-19. Pengurusan jenazah telah sesuai protokol, tetapi penolakan warga membuat ambulans akhirnya berbalik arah. (*)









