Doa Pagi
![]()
Micle Anggi
/1/
Ada bunyi tetes air di plafon ruang tamu untuk mengingatkan kita
agar jangan terlalu cepat mengungkai makna
Ada kesepian lain bertamu, mengajak bercengkerama
tentang kesejatian hidup yang mengalir dari air matamu
Ada seekor kucing lelap, melingkar, berselimutkan abu
dalam perapian yang redup.
Seperti matamu yang perlahan hanyut
Engkau berikan kesempatan untuk mengatup bersama detak jantungmu.
/2/
Kepada aroma sejuk diantara celah udara,
waktu hanyalah untaian warna yang melukis lensa mata
Mengapung di sebuah telaga pucat. Dan dingin karena
lelah menjaring jingga dan merajutnya menjadi kerlip bintang.
/3/
Sajak telah tertukar
dengan wajahmu
Biru
Jam dinding mengikuti
langkah kenangan
Semu
/4/
Butir-butir darah yang keluar
dari telapak tangan dan kakimu,
membawa kami menuju tanah kembara.
/5/
Jika ada seseorang menaruh tanya,
Maka jawablah bahwa aku pergi
untuk merangkai bunga layu
Menilai yang dibawah langit dan
di atas bumi atas lumpuhnya kehendak
di garis sepi
/6/
Sehening doa pagi saat menapak jejak embun, aku memintal kenangan dari
rasa anyir yang keluar dari mulut seorang martir.
Mungkin akan tertulis dalam sejarah tentang berakhirnya penderitaan
yang mendamba kesucian dalam kesunyian
Lalu perlahan waktu kembali menorehkan tinta pada kanvas
yang dibingkai oleh air matamu
Yogyakarta, 2017

Fana
Aku mulai berhati-hati dengan kebijaksanaan ketika
sebuah seringai telah bersemayam dalam tubuh yang tenang.
Adalah arus dasar sungai yang enggan menarik nafas atau
sekedar memadu pandang kepada kehidupan.
Namun jika sebuah bunga teratai mekar dengan
rimbunan daun yang menjamah angin
Sepertinya patut jika rasa meluruhkan sangka agar tidak
menebar duka dari hilir menuju muara
Demi gugur daun kering yang jatuh di beranda dan
pesona mazmur yang keluar dari mulut para pendosa
Jemaat baru akan berdiri tegak dalam kemuliaan raga yang
akan terus meragu
Disanalah keselamatan hadir dalam
kemurnian hasrat dan kesadaran fana
Yogyakarta, 2017






