Cerpen Bangkai, Persembahan Kharisma Damayanti
Anyir bercampur busuk. Bebauan menyengat terhirup. Menusuk urat saraf pembau. Spontan jemari menutupi dua lubang indera. Sepatunya menapaki semak-semak pembuangan. Bukan dedaunan melainkan limbah-limbah rumah tangga. Kertas, plastik, kresek juga sesampahan lain menggunung. Menebar aroma menjijikkan bagi yang tak terbiasa datang. Namun, menjadi ladang rezeki untuk para pengais mimpi ibukota. Serupa lahan yang ditanami padi-padi merunduk. Mereka sibuk menggali gundukan sampah serupa membajak sawah. Mengais barang-barang yang bisa didaur ulang. Meletakkannya pada karung dipundak, hingga penuh sesak. Barulah mereka beranjak menelurkan isi karung menjadi lembar rupiah. Tidaklah seberapa. Perkilo hanya dua ribu perak. Sebab kebutuhan melonjak dan pendapatan tak layak. Mereka kembali ke tempat semula mengais harap yang sama.
Kulit legam terbakar sengatan Mentari terik. Juga bau badan teraliri aroma rimbunan sampah. Suami istri itu layaknya pekerja rodi. Sudah tiga kali hilir mudik memulung limbah plastik. Dan baru enam lembar pecahan uang dua ribuan dikantongi. Sedang nasi belumlah nanak dan dapur tak ada kepul asap. Padahal matahari mulai meninggi. Saat itulah pria berdasi menjejakkan kaki hendak bergumul dengan lautan sampah. Ia bersama ajudan juga pasukan lainnya. Sepertinya ia orang penting. Dikawal polisi juga beberapa awak media yang siap meliput si pencari muka. Didekatinya pasangan suami istri yang tengah menyibak gundukan rezeki. Menyalami dengan ramah serta sungging sumringah. Kedalaman hatinya siapalah yang tahu. Bahwa sebenarnya ia muak berada di tempat itu. Kotor, jijik. Ia lebih suka menyiyiri daripada harus menyisir lahan pembuangan akhir ini. Tapi, demi reputasi ia rela berdiri di tanah sampah juga berjabat tangan dengan jelata. Guna merayu, megambil hati. Agar menjatuhkan pilihan kepada dirinya.
“Selamat siang bapak ibu, perkenalkan saya Pram calon gubernur nomer lima. Adakah keluhan yang ingin disampaikan? Saya akan membantunya.” Manis rayu bualan Ia lontarkan.
“Selamat siang pak. Kenalkan saya Pri dan ini istri saya Sri. Kebetulan bapak singgah kemari. Mendengar keluh kesah kami. Pendapatan kami sangat kurang untuk kebutuhan pak. Kiranya bapak bisa menyediakan lapangan kerja atau modal usaha bagi kami.”
“Oh, ya benar, tentu bisa pak! Saya janjikan jika saya terpilih jadi Gubernur akan sejahtera negeri kita. Lapangan kerja akan ditambah juga pemberdayaan masyarakat dengan memberi pinjaman modal serta pelatihan keterampilan. Saya berjanji!”
Ia serukan janji-janji manis. Keadilan yang merata. Kesejahteraan bagi semua. Tanpa memandang kasta. Semua yang sedang menyaksikan berbinar-binar. Seolah ia adalah pembawa harapan baru. Yang kelak bisa mengentaskan mereka dari kemiskinan. Hatipun luluh. Pilihan telah jatuh tertuju pada sang pria berwibawa. Juga sepasang suami istri itu. Mereka bahagia akan ada janji yang terlaksana, harapnya. Doa mereka semoga segera lepas dari jerat himpitan ekonomi. Agar Putra Putri mereka mendapat penghidupan yang layak. Pendidikan setara dengan yang lainnya.
“Bu, pokoknya kita pilih pak Budi nomer lima. Beliau terlihat wibawanya, sangat santun. Kata-katanya juga meyakinkan. Semoga benar-benar bisa membawa kita pada sebuah perubahan besar.”
“Iya pak kita pilih beliau saja, pasti kota ini sejahtera. Kita akan mendapatkan penghidupan yang layak ya pak!”
Senada dengan mereka. Seluruh yang mendengar rayupun terbujuk akhirnya. Juga dengan harap yang sama. Namun, ia sang berwibawa hanyalah memasang kedok belaka. Ia tak sebenarnya ingin bermasyarakat melainkan jabatan yang menjadi kegilaannya. Kehormatan yang ia idamkan. Pikirnya mulai picik melahirkan tindakan licik. Sebelum hari pemilihan tiba. Serangan Fajar merajalela. Amplop-amplop bertebaran menjelang hari pelaksanaan. Sepasang suami istri itupun turut menerima amplop yang masing-masing mendapatkannya. Jelas, mereka bahagia. Yang mereka tahu hanya Pak Budi orang baik. Sudi bersedekah dan juga berjanji pada mereka.
“Wah, pak! Beliau ini baik sekali. Belum apa-apa sudah memberi kita uang. Masing-masing dapat lagi pak. Isinya seratus ribu rupiah pak.”
“Betul, bu! Benar-benar dermawan. Jika ia terpilih pasti akan lebih banyak yang kita dapatkan.”
“Ih, bapak sama ibu kok malah bangga sama orang yang suka main curang. Orang seperti itu justru patut kita waspadai pak, bu! Berani menyogok demi jabatan. Pasti ada niat busuk dibaliknya, “Anak sulung mereka menimbrung dengan logika nyata dan pengetahuan yang pasti.
“Hussh, kamu belum ketemu orangnya. Dia orang baik sekali. Jangan berpikir macam-macam. Yang penting kamu sekolah yang pintar biar kelak bisa jadi seperti beliau.”
“Dia sedang menyimpan bangkai pak, bu! Lama-lama akan terendus juga. Lihat saja, jika dia benar-benar terpilih apa yang akan kita rasakan. Darma mau jadi seperti dia pak, bu! Tapi tidak akan Darma lakukan hal selicik itu. Meracuni pikiran rakyat kecil dan menjejali dengan kenikmatan sesaat.”
“Darma, bapak tahu kamu anak yang pandai. Sudahlah, ini perkara politik belum saatnya kamu tahu. Yang penting pak Budi sudah berjanji menyelamatkan kita dari kemiskinan.”
Percuma. Pola pikir kedua orang tua Darma masihlah rendah. Tanpa memilah kembali kebenaran yang pernah terjadi. Meski dijelaskan berkali-kali tetap tak akan ada muaranya. Darma lebih baik mengalah. Keputusan orang tuanya tetap memilih pasangan nomor lima. Suara mereka dibayar seharga seratus ribu rupiah. Tak seberapa dengan keuntungan yang akan di dapat calon gubernur. Namun derita mereka akan tetap sama. Tibalah hari pemilihan. Semua berbondong-bondong menyumbangsihkan hak suara memilih. Atas hati nurani masing-masing. Hingga batas akhir, maka terpilihlah sudah gubernur kota ini.
“Selamat pasangan nomor lima, pak Budi dengan pak Indra atas kemenangannya.”
——————
Kericuhan di sana sini. Demo merajalela. Pengangguran masih menjadi momok nyata. Kemiskinan masih mendiami portalnya. Sementara ia, sang berwibawa, berkacak pinggang mengatasnamakan pemimpin oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Nyatanya ia pasif. Tak menampakkan perubahan signifikan bagi ibu kota. Simpang siur warta mengabarkan ia terbelit kasus korupsi. Penggelapan dana yang harusnya digelontorkan untuk pembangunan lahan taman iu kota juga rumah sakit umum. Semua kini terbengkalai, dana raib ditelan tikus berdasi. Semua tuduhan mengarah padanya. Dua tahun menjabat keuangan kota merosot bahkan banyak kehilangan anggaran dana. Tetap ia santai melenggang kangkung yang angkuh. Jauh berbeda saat dulu ia berstatus calon gubernur. Uang bisa membeli segalanya. Termasuk tuntutan hukum. Rakyat telah banyak menuntutnya namun rupiah mampu membungkam kesalahannya. Dan terbebas dari segala tuduhan dan jerat hukum.
Sepasang suami istri tengah memangku tangan di dagu. Saat senja dan hujan menyapa. Penyesalan tiada akhir. Pembenaran dari kata-kata putranya. Kehidupan masih selalu sama. Tanpa ada perubahan apa-apa. Pendapatan tetaplah tak seberapa. Yang dijanjikan semua tanpa realisasi apapun. Uang seratus ribu terbayar penyesalan panjang. Benar kata Darma. Ia menyimpan bangkai dari peringainya. Pada akhirnya tercium juga. Masihlah terhormat bau badan mereka. Keringat bercampur aroma menyengat. Demi rezeki yang halal. Daripada berbau wewangian namun busuk di dalam.
Terlambat sudah. Bau busuk telah tercium namun tak disingkirkan. Sebab bau rupiah lebih berharga dan harum semerbak kedamaian. Maka jiwa yang lemah, hanya bisa berharap doa pada Tuhannya. Semoga segera ditunjukkan cara untuk mengubur bau bangkai.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan