Bulukumba, suaralidik.com – Tidak terpasangnya papan plang proyek di sepanjang pekerjaan proyek yang terletak di lingkungan Paranjelling kelurahan Dannuang, Ujung loe, mengundang perhatian dan banyak menimbulkan tanda tanya oleh masyarakat setempat, Selasa (14/4/2020)
Pihak pemborong selaku pelaksana melaksanakan pekerjaan luput dari perhatian yang tidak sesuai dengan RAB dan petunjuk teknis serta bestek yang sebenarnya.
Masyarakat setempat bahkan terus mempertanyakan “proyek siluman” yang tampak dikerjakan asal-asalan oleh pemborongnya.
Kepala tukang yang ditemui di lokasi prpyek bernama Arman bercerita kalau dirinya hanya diperintahkan mengerjakan proyek itu.
Bahkan Ia menyebutkan kalau dirinya terpaksa mencampur adonan semen dengan air laut lantaran tidak ada ketersediaan air tawar.
“Saya hanya diperintahkan untuk bekerja di proyek ini, pengawas dari proyek ini atas nama PAPU/Jaja yang beralamat Sinjai. Ia akan memfasilitasi air tawar untuk dipakai mencampur seman, ternyata dia tidak ada jadi terpaksa Kami memakai air laut (air asing laut)untuk mencampurkan semen tersebut,” kata Arman.
Selaku tukang, Ia juga sangat kecewa kepada PAPU/Jaja yang sudah menjanjikan akan membeli air ledeng dari rumah warga ternyata tidak juga tidak ada.
“Kecewa juga pak sama Jaja itu, Ia sudah janji akan membeli air ledeng dari rumah warga, tapi tidak ada juga sampai saat ini,” tutup Arman.
Lidik Pro Ujung Loe Meminta Pengawas “Proyek Siluman” Segera Turun ke Lokasi
Menyikapi aduhan masyarakat setempat, Lembaga Investigasi Mendidik Pro Rakyat Nusantara (Lidik Pro) DPC Ujung loe langsung melakukan peninjuan lokasi pekerjaan proyek.
Salah satu aktivis Lidik Pro, Muh Adil membenarkan kalau di lokasi proyek tidak ditemukan sama sekali papa proyek sebagai wujud transfaransi.
Selain itu, Adil menemukan beberapa keganjalan dari beberapa hasil pekerjaan itu. Ketebalan dasar lantai yang ditemukan hanya 4 cm.
Dasar lantai itu pun tidak diberikan batu atau sertu sehingga Ia menilai jika pekerjaan proyek ini hanya buang-buang anggaran dan dikerjakan asal-asalan.
“Jelas pelanggarannya di lokasi proyek itu, Tidak ada papan proyek sesuai dengan laporan masyarakat. Ketebalan lantai hanya 4 cm saja, itupun tidak ada dasar sama sekali seperti batu berupa sertu dan semacamnya, parahnya lagi, adonan semem dicampur dengan air laut,” ungkap Adil usai mengunjungi lokasi proyek itu.
Lidik Pro Ujung loe meminta kepada pengawas agar segera turun ke lokasi proyek sebelum masyarakat setempat melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Masyarakat saat ini tidak bisa dibodoh2in lagi, mereka sudah mulai faham kalau ada proyek yang dikerjakan di daerahnya. Contohnya di sini, mereka terus bertanya – tanya seputar proyek itu, Tutup Adil. (*Ilham)









