Cerpen Hujan, Persembahan Putri Bangsa Kharisma Damayanti
![]()
Hujan
Kharisma Damayanti
Para lewala masih terjaga kala serigala mengaum di balik bukit biru terpendari bias purnama berdarah. Menyaksikan kemurkaan alam saat manusia terlena dalam kembang tidurnya. Bah meruah menerjang seluruh yang dilaluinya tanpa melewatkan celah seinchi pun. Dalam semalam kesunyian, seluruh desa dari ujung barat hingga timur telah terkubur genangan air setinggi puncak atap yang bisu tak berdaya.

———
Nasi terbungkus kertas minyak lengkap dengan lauk tak tersentuh, ia biarkan meringkuk bersama kepiluan. Lambung perutnya belum mau berdamai dengan takdir. Kala ia sibak kenang kepiluan, bergetar seluruh denyut nadi menjadi kecamuk bergelut dengan duri. Malam itu, ia bertarung dengan ajal yang mengancam hendak menikuknya. Menghentikan detar jantung namun ia lebih berkuasa atas dirinya. Sekarat bukanlah jalannya untuk pulang, sebab tangan Tuhan berikan ia kesempatan untuk memeluk kembali lututnya. Merasai nyeri dan kobaran api membara pada setiap hembus panjang napas berjelaga.
Semesta telah merenggut dua kekasih yang mengalirinya darah renjana. Terseret arus deras sejauh ia tak bisa memandang serta mengecup cinta kasihnya. Dua senja yang lalu, hujan tak pernah bosan bersenandung, malah semakin menggaung seperti kelakar rumput teki. Ia, juga seribu kepala lainnya terus mengecap manis asa esok hari dalam bilik yang kini jadi serata ibu jari kaki.
Betapa perih batin usia dasawarsa menjiwa segenap lara. Raga telah mati rasa, sebab batinnya jauh lebih mengangakan luka. Maka semenjak itu pula, ia menyerapahi setiap tetes hujan yang jatuh seirama detak.
“Ia jadikan aku yatim piatu lengkap dengan dhuafa. Jahat! Kejam! Aku benci hujan! Karenanya banjir menggenang, nyawa-nyawa luruh bersamanya. Jika hujan tak datang, pastilah aku masih berselimut renjana kedua ibu bapakku. Tak kulihat tangis serta mata nanar di sana sini.”
Ia, Sendi, meratap bernaung satu atap dengan kepala senasib dengannya. Berlindung dari gelegar hujan di tenda pengungsian.
“Nak, makanlah sesuap saja. Kasihani cacing-cacing di perutmu, pasti mereka sedang meraung kelaparan,” Kata seorang nenek yang sedari tadi berada di samping kanannya.
“Tidak mbah, aku tidak merasakan lapar. Cacing-cacing di perutku pun sama, nek. Mereka mau mengerti kok,”
“Hahaha, kau pikir cacing-cacing peduli Le. Ayolah, banyak di luar yang bisa makan. Beruntung kita di sini dapat jatah, belum tentu yang lain dapat. Mari Le, bersyukurlah! Makanlah!”
Guratan keriput menghiasi paras tua sang nenek. Usianya seabad kurang seperempat. Ia masihlah kuat. Ajaib! Renta sepertinya selamat dari banjiir bandang yang menggilas seluruh isi desa. Dari seribu jiwa tinggal tiga ratus kepala yang selamat dan berhasil terdata. Lainnya? Ditemukan tewas bahkan tak tercium keberadaannya. Budi, sepuluh tahun usianya. Mulai membuka bungkusan nasi dan menyuapi mulutnya sendiri. Entahlah, mengapa ia menuruti perkataan mbah Pariyem, nenek itu. Ia seperti mendapat perhatian dari orang tua kandungnya sendiri. Pertemuan keduanya tak terencana. Budi tidak mengenal sang nenek meski tinggal dalam satu kampung. Sebab mbah Pariyem hidup menjauh tak mau membaur bertetangga. Ia mengurung jiwanya dalam sebuah bilik reyot yang tak ada seorangpun ingin bertandang. Pastilah ia menolak tamu-tamunya. Hanya jika perlu berbelanja kebutuhan, barulah ia akan keluar dan berbelanja. Ia menganyam lembaran-lembaran yang dulunya pring bambu. Beraneka kreasi mulai tipas, caping, dan lain hasil anyaman ia tukarkan dengan lembaran kertas bernilai rupiah. Itulah Sumber mata pencahariannya. Sedang Budi, dia bocah periang dan lihai di antara sebayanya. Cerdik dan tangkas. Berbakti pada ibu bapak serta bertabiat luhur. Ia tahu mengenai mbah Pariyem. Namun, tak banyak bertanya mengapa. Tak peduli. Dunianya adalah menggelar layang-layang di angkasa dan bermain gasing yang mengasyikkan. Kali itulah, ia mulai peduli pada mbah Pariyem. Merasa senasib. Sendirian.
“Mbah, boleh Budi bertanya, mbah?”
“Tanya apa, Le?”
“Mbah selama ini hidup seorang diri? Tidak pernah terlihat kumpul dengan tetangga-tetangga. Kenapa mbah? Tidak bosan?”
“Ora Le!” Mbah Pariyem menjawabnya singkat, sepertinya ada luka dalam hatinya.
“Kenapa mbah? Sesekali mbah terlihat menjual hasil menganyam ya mbah? Buat sendiri?”
“Iyo Le, mbah buat sendiri!”
“Putra Putri mbah kemana?”
“Ilang kegowo banyu udan!”
Dan ia dapati satu cerita tentang nenek misterius itu. Pertanyaan mengapa ia selalu sendiri, akhirnya terkuak. Dalam satu atap tenda pengungsian mereka menebar rasa saling percaya. Akrab. Seperti batin seorang nenek terhadap cucunya. Ya, Budi menemukan keluarga baru yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Mbah Pariyem.
“Empat puluh tahun lalu, sama seperti kemarin Le. Bah membandang, menerjang apapun yang dilaluinya. Hari itu hujan sangat lebat, rapat dari pagi hingga malam. Aku tahu kalau kejadian kemarin akan terjadi lagi. Dari hujan yang tak mau berhenti,”
“Nah, mbah! Itulah sebab sekarang aku benci hujan. Ia penyebab banjir! Bapak ibuku korbannya mbah.”
“Kamu salah, Le! Hujan tak pernah jahat pada manusia. Ia adalah proses alam yang terjadi dengan sendirinya. Siklus alam yang sejak dulu sudah ada. Karena kuasa Tuhan pula. Setiap yang Tuhan berikan adalah anugerah! Keberkahan, Le!”
“Hujan sudah merusak desa kita mbah. Coba kalau tidak hujan? Kan, tidak akan ada banjir!”
“Sekarang pikirkan! Jangan salahkan hujan dulu, logis, di tempat lain juga hujan. Contoh desa di balik bukit Timur. Sama musimnya, hujan. Tapi tak ada banjir. Kau tahu kenapa?”
“Tidak,kenapa mbah?”
“Sebab lingkungan mereka terjaga. Bukit masihlah menghijau dengan terasiring serta reboisasi yang rajin. Kau pasti sudah belajar di sekolahkan Le? Beda dengan desa kita. Dari dulu, tangan manusia menjarah bebukitan. Kayunya diambil tanpa ada pertanggungjawaban. Gundul. Bahkan warga menimbun sampah, kali yang harusnya mengalir tergenang limbah rumah tangga. Hujan melalui siklusnya. Itu tugasnya. Jika ia turun, tak ada tempat menampungnya. Tanah tak mau menyerap malah longsor sebab akar tak ada lagi. Sumbalan sampah-sampah menggenang. Lalu aliran hujan akan kemana? Jika tidak bencana yang terjadi.”
Budi mengangguk tiga kali dengan mantap. Ia menyusuri jalan pikirnya. Mencari titik temu atas kemelut yang melilit otaknya. Teringat pelajaran di bangku sekolah dasar yang sempat ia kenyam. Manusialah Sumber masalah. Eksploitasi alam berlebihan. Salah! Ia telah salah! Hujan adalah kedamaian. Jika ia menyalahkan hujan, sama saja ia menganggap Tuhan melakukan kesalahan. Kini, Budi tersadar. Renungnya sempat rancu kini terang benderang. Hujan tak keliru. Tapi, manusialah yang telah menciptakan kekacauan bagi dirinya.
“Selama ini, mbah sendiri. Tinggal di bukit yang tersisa sedikit tumbuhan. Mbah rawati tetumbuhan. Tak mau berbaur sebab mbah masih sedih. Juga tak mau ikut mereka mencipta kerusakan.”
“Ya mbah, benar! Warga telah mengubah tanah-tanah jadi aspal dan bangunan beton. Bapakku bekerja pada pabrik menjadi buruh yang tugasnya menebang pohon di bukit. Aih, hujan tak punya daerah resapan. Aku sadar dan harusnya manusia lain juga. Hujan perlu tempat untuk mengalir. ”
“Syukurlah kau mau mengerti Le! Dan, kau tahu? Hujan adalah saat tepat untuk merindu. Banyak kenangan di baliknya bukan? Termasuk kepergian orang yang kita sayang dapat kita kenang dari hujan,”
“Benar mbah! Hujan punya kenangan. Indah atau pahit tapi hujan yang menjadi pengenang yang baik,”
“Hujanlah yang mengantarkan rinduku pada suami dan anak-anakku, Le!”
“Dan hujan juga akan mengantar rinduku pada bapak ibuku mbah. Serta hujan yang membuat aku jadi cucumu.”
Mereka berdua bergelak tawa. Perih tak lagi rasa. Suasana tercipta hangat dan tanpa ada lagi duka. Rasa syukur telah menggenapi celah dalam dada. Mengisi kekosongan sebab terluka. Tak ada. Semua sakit lenyap bersama aliran hujan yang akan sampai pada muara sesungguhnya.
————————–
Saat dimana tak kau temui kegersangan bahkan dasar lubuk hatiku pun tergenang kenang karenamu. Sepanjang hari basah dan tak ada celah bagiku melalap kesunyian sebab kini aku sendirian. Tanpamu, yang tiga periang lalu menanggalkan debar jantung lepas genggam dariku. Mata kita bersitegang saling menatap nanar, bibir kita beradu seribu argumen tak terpecahkan. Sebab, kau tak acuhkan kenyataan bibirku bicara. Malah kau dengar gonggongan anjing lalu, dan semudah itu kau menggugu tanpa ragu.
Senja tiga perian lalu, kusisir sepanjang lorong di hatimu yang rapuh. Bersusah payah meredam bara api yang berkelakar dalam darahmu. Dan hujan, dia menyaksikan kasih kita yang dirundung prahara. Renjana yang kau bangun di kedua bola mataku telah kau benamkan dalam genangan di pelupuk mata. Tak tahu lagi, aku menyerah pada hatimu yang beku.
Kubenamkan diri bersama hujan menyenja berharap hari itu tak pernah ada. Setelah kau berlalu, melenggang dari hadapanku maka yang ada tinggallah luka dan kecamuk mendera relung jiwa. Aku kecewa! Tapi hujan sungguh baik, ia menderas menyapu air mataku, sehingga tak seorang tahu sedang apa aku berdiri sehadap matahari tenggelam.
“Apa aku tak lagi ada di hatimu. Mengapa? Mengapa kau ragukan hatiku? Sedang kau selalu hadir dalam tengadah doa tabahku. Kaulah, rencanaku. Tapi aku, pengkhianat bagimu.”
Mata para lelawa memang tak pernah suka melihat kita bergandeng asa, meniti satu tuju yang sama. Dulu kau selalu memberiku tempat bersandar kala mereka menghujatku sebab aku milikmu. Kini, mereka menertawaiku dan hujan sedang aku tak tahu jalan kemana harus pulang. Kau terlampau jauh melepasku. Hilang dari sekejap pandang.
Percayalah, kuasa Tuhan membolak-balikkan hati hambaNya. Jika akulah rusukmu, maka kepadamu jugalah aku menyatu. Sebar kebenaran telah menyeruak. Matamu tak lagi buta telah terbias pendar rembulan semalam. Hatimu tak lagi beku, telah mencair gumpalan salju dalam debarmu.
Kini telah berlalu tiga perian, kita bergumul di naungan hujan. Matamu tak lepas memikat mataku. Hatiku rekat mengikat hatiku. Lagi-lagi hujan menjadi saksi kita kembali menuju satu rasa. Maka peluklah aku sekarang, di bawah rerintik hujan seirama detak.
“Terimalah ucapan terima kasih sebab kau telah kembali memelukku. Aku sempat membenci hujan karena ia menghujaniku seribu kesialan, kehilanganmu. Tapi kini, hujan tak memberi alasan mengapa aku harus menyimpan benci. Tak lagi, aku cinta hujan malam ini serupa aku mencintaimu,”
“Dan, dengarkanlah! Hujan menjadi saksiku berikrar , bahwa tak akan aku tanggalkan kau dari bola mataku. Tak akan aku melepasmu lagi. Selamanya, aku milikmu.”





