Sajak Kharisma Damayanti ‘Mengetuk Pintu Langit’
![]()
Kharisma Damayanti

Lalu, kan ia kejar kepala seorang yang hampir basah. Ia tak rela, jika yang lain kan tersakiti amukan angkasa. Yang berkerucut dari harapannya menjadi penyelamat di _mangsa pitu_ , selama itu pula tak lepas ujarnya mengeja haru. Pada Tuhan, sebab diberi ia kesempatan mengecap pahit manis pengorbanan. Dan kala temaram menggusarkan waktu. Mendekap nuansa yang semula kelabu semakin sendu. Rembulan mengintip malu-malu di balik mendung yang masih setia menggelayuti bumantara. Seharian, mentari kesal tak diizinkan menyapa para perindu.
Baginya, si mungil penguasa jalan raya, semusim air mata bagaikan inayat bagi arus hidup kemudian. Maka, ia tak bergeser dari tempat berdiam. Meski malam menyekap lamunan, tetap tak mau rebah pada kantung perut yang dirasa belum cukup tuk ia bawa lari. Pulang.
Lantas, ia mendongak pada bentang angkasa. Bertabur julang gedung menantang langit. Membiarkan kuyunya kan kuyup. Serta hujan menyamarkan mata air di pipi. Menangkupkan segala mimpi. Mengadu pada pemilik malam. “Tuhan, turunkan air surga dari langitMu. Kuingin tak seorangpun tahu, bulir di mataku mengetuk harap pada kuasaMu. “






